Bandung: Harga Sembako Merangkak Naik
Dua hari pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), harga sembako di Kota Bandung mulai merangkak naik. Harga beras dan gula di beberapa pasar mengalami kenaikan Rp 100,00/kg. Harga beras diperkirakan akan terus meningkat, selain karena penyesuaian harga BBM juga permintaan yang tinggi dari para pedagang, begitulah berita yang dimuat pada Harian Pikiran Rakyat Bandung hari ini (26 Mei 200*)
Dari pantauan “PR”, harga beras menunjukkan tren kenaikan secara bertahap dalam beberapa minggu terakhir. Dalam sepekan terakhir, terjadi kenaikan Rp 200,00, dan akhir pekan ini naik lagi Rp 100,00 hingga harga beras untuk kualitas medium di tingkat pengecer menjadi Rp 5.300,00/kg.
Menurut pedagang grosir di Jln. Jamika, Asep, harga beras dari penggilingan di Cianjur naik pada hari Sabtu lalu sekitar Rp 50,00 - Rp 100,00 per kg. Dengan kenaikan itu, Asep menjual beras kualitas sedang dari Ciawi Rp 4.900,00, beras Cianjur Rp 5.100,00, dan beras Majalengka Rp 4.750,00.
“Di tingkat penggilingan, harga beras sudah naik menyesuaikan dengan biaya angkut,” ujarnya. Menurut informasi dari sopir angkut, kata Asep, sebenarnya biaya angkut harga beras jatuhnya bisa naik sekitar Rp 100,00 - Rp 200,00/kg. Tetapi kenaikan itu dilakukan secara bertahap.
Menurut Ketua Asosiasi Pedagang Komoditas Agro (APKA) Jabar, Dodi Kusdinar, secara partai, sampai Minggu (25/5) kemarin, untuk kelas medium 1 masih Rp 4.500,00/kg. Kendati harga masih stabil, namun ongkos kirim yang mengalami kenaikan karena banyak pengusaha angkutan truk minta tambahan ongkos. “Dengan perkembangan itu, harga beras sepekan ke depan akan terus bergerak naik. Mudah-mudahan, kalaupun naik harganya masih `bersahabat` dengan konsumen, karena dua pekan lalu sudah naik dengan selisih lumayan,” katanya.
Kenaikan yang sama pada harga gula. Di Pasar Induk Caringin (PIC) harga gula mengalami kenaikan Rp 100,00/kg. Menurut seorang pedagang, Andi, harga gula saat ini naik menjadi Rp 6.200,00/kg. Kenaikan itu baru terjadi hari ini (Minggu). “Saya tidak tahu penyebab kenaikannya, tetapi pengalaman tahun 2005, setelah kenaikan BBM harga pasti naik,” ujarnya.
Tetapi untuk pedagang yang masih menyimpan stok, mereka masih menjual gula Rp 6.100,00/kg. “Saya masih menjual gula Rp 6.100,00/kg atau sama dengan harga minggu lalu,” kata Tini, salah seorang pedagang sembako di Pasar Cihaurgeulis Bandung.
Tini mengaku terakhir membeli gula dari agen dua hari sebanyak 11 kuintal sebelum kenaikan harga BBM. Akan tetapi, ia juga mendapat informasi dari agen bahwa gula telah naik pascakenaikan BBM sekitar Rp 100,00-Rp 200,00/kg.
Sementara itu, harga sembako lain seperti terigu, minyak goreng, telur, dan mentega di Bandung raya juga mengalami kenaikan rata-rata Rp 100,00/kg. Terigu Rp 7.000,00-Rp 7.500,00/kg, minyak goreng Rp 11.200,00-Rp 11.500,00/kg, telur Rp 11.400,00-Rp 11.600,00/kg, mentega Rp 12.000,00-14.000,00/kg.
Di Pasar Cihaurgeulis, beberapa jenis sayur juga mengalami kenaikan harga, seperti cabai merah dan bawang merah yang rata-rata naik Rp 2.000,00 per kg. Harga cabai naik dari Rp 12.000,00 menjadi Rp 14.000,00 - Rp 15.000,00 per kg, sedangkan bawang merah naik dari sekitar Rp 11.000,00 - Rp 12.000,00 menjadi Rp 13.000,00 - Rp 14.000,00. Begitu juga dengan harga tomat yang naik dari Rp 3.500,00 menjadi Rp 4.000,00 per kg.
Sedangkan di PIC harga sayur cenderung stabil. Jenis sayur yang mengalami kenaikan di PIC lebih disebabkan fluktuasi harga yang biasanya terjadi. Kentang yang mengalami kenaikan Rp 200,00 menjadi Rp 4.200,00-Rp 4.500,00/kg, dan kol yang naik menjadi Rp 3.000,00/kg.
Jenis sayuran di PIC yang tidak mengalami kenaikan di antaranya adalah cabai tanjung dengan harga Rp 11.000,00/kg, cabai tewe Rp 12.000,00/kg, cabai rawit Rp 9.000,00/kg, bawang merah Rp 9.000,00-Rp 12.000,00/kg, dan kedelai Rp 7.500,00-Rp 8.000,00/kg.
Stabilnya harga juga terjadi pada komoditas jenis daging. Harga daging ayam masih berada di kisaran Rp 19.000,00 - Rp 20.000,00 begitu juga dengan telur masih berada pada kisaran Rp 11.000,00 - Rp 11.500,00, harga daging sapi juga tetap pada kisaran Rp 47.000,00 - Rp 48.000,00 untuk kualitas sedang.
Ketua Asosiasi Pengusaha Daging Sapi (Apdasi) Jabar, Dadang Iskandar, mengatakan, harga daging sapi sejauh ini masih sulit didongkrak. Namun, yang paling berat adalah ongkos kirim, terutama pemgiriman sapi lokal dari Jateng dan Jatim. “Yang merugi adalah pengusaha pemotongan, sedangkan pengusaha sapi hidup tampaknya masih bisa tertutupi harga karkas. Harga daging sapi sejauh ini masih berisiko besar jika dinaikkan, karena banyak alternatif dari harga daging ayam dan ikan,” katanya.
Disebutkan, kalaupun terjadi kenaikan harga daging sapi di eceran, lebih banyak dilakukan para pedagang. Dari para pengusaha pemotongan harganya masih belum dinaikkan.
Seorang ibu rumah tangga, Mumun, menyayangkan kenaikan harga beras dan sembako lainnya. “Barusan saya membeli beras harganya sudah naik Rp 100,00/kg. Padahal dua hari sebelum kenaikan BBM, beras juga sudah naik Rp 100,00/kg,” ujarnya. Ia pun mendengar dari pedagang bahwa dalam beberapa hari ini harga sembako lain akan ikut naik.
Majalengka
Sementara itu, di Kabupaten Majalengka, harga minyak tanah mencapai Rp 3.500,00 - Rp 5.500,,00/liter di tingkat pengecer. Pemerintah Kabupaten Majalengka hingga kini belum membuat HET sehingga harga penjualan diserahkan kepada mekanisme pasar.
Harga minyak tanah Rp 3.500,00 terjadi di sebagian wilayah pinggiran kota, seperti halnya Cijati, Munjul, Jatipamor, dan Cigasong. Uniknya, di pusat kota Majalengka justru harga minyak mencapai Rp 4.000,00/liter, padahal lokasi tersebut berdekatan dengan pangkalan minyak tanah. “Begitu malam diumumkan, paginya harga minyak sudah Rp 4.000,00 per liter, harga tersebut kayaknya tidak akan turun lagi,” ungkap Mimin.
Harga yang sama juga terjadi di wilayah Kecamatan Banjaran dan Talaga. “Dulu seliternya hanya Rp 3.000,00, sekarang naik Rp 1.000,00 jadi Rp 4.000,00 per liter. Masih mending harga mahal juga kalau barangnya ada. Yang membuat bingung itu kalau barangnya mahal ditambah hilang dari pasaran,” katanya.
Berbeda dengan di Nunuk, Kecamatan Maja, harga minyak tanah mencapai Rp 5.500,00/liter. Mahalnya harga minyak di Nunuk ini sehubungan ongkos angkut yang mahal.
Menurut Salim, pedagang minyak tanah, untuk memperoleh minyak tersebut warga harus pergi ke Maja dengan ongkos Rp 15.000,00 pulang-pergi menggunakan kendaraan bak terbuka atau ke Majalengka. “Lagi pula di Nunuk ini kan hanya beberapa orang yang menggunakan minyak tanah, karena sebagian besar warga untuk memasak menggunakan kayu bakar,” ungkap Salim.
Kabag Perekonomian Setda Majalengka Surya Darma mengaku belum membuat harga eceran tertinggi (HET) minyak tanah, sehubungan belum adanya surat dari pemerintah provinsi untuk dijadikan sebagai acuan pembuatan HET di tingkat kabupaten. “Biasanya kalau pengendalian harga tersebut berdasarkan surat dari pemprov. Hal ini dimungkinkan karena terjadinya kenaikan harga BBM pada hari libur,” tuturnya.
Sementara itu, terjadinya kenaikan harga BBM ternyata belum memicu terhadap kenaikan sebagian harga bahan pokok di Pasar Majalengka. Harga beras IR 36 masih tetap Rp 5.000,00/kg, demikian juga dengan harga beras cisadane. Harga beras kelas II masih berkisar antara Rp 4.750,00 hingga Rp 4.800,00/kg. Bahkan, di tingkat rumahan harga beras masih tetap murah yakni Rp 3.200,00/liter. (CA-166/CA-173/CA-174/A-81/C-31 - PR)












tolong untuk kapoda jabar untuk turun di karawang banyak preman baik dari umum maupun dari …