Sopir Angkot Mogok Menuntut Tarif Baru
Ketidakjelasan tentang naik atau tidaknya tarif angkutan umum pascakenaikan harga bahan bakar minyak berdampak kepada awak angkutan maupun penumpang. Sebagian awak angkutan memilih mogok dan sebagian memaksa penumpang membayar dengan tarif baru. Hal ini pula yang dilakukan sopir angkot di Sukabumi, Jawa Barat, untuk menuntut diberlakukannya tarif angkutan yang baru.
Ratusan sopir angkot jurusan Cibadak-Cisaat, Sukabumi, Ahad (25/5), memilih memarkir kendaraan mereka di tepi jalan. Ada pula yang memarkir kendaraan di lapangan sepakbola Sekarwangi. Akibatnya, calon penumpang pun telantar. Di beberapa titik, calon penumpang menumpuk sambil menunggu angkutan yang bisa membawa mereka ke tempat tujuan.
Di Majene, Sulawesi Barat, kebingungan melanda para sopir angkutan umum karena pemerintah daerah belum menetapkan tarif baru. Sebagian sopir memilih tidak beroperasi sambil menunggu penetapan. Sebagian lagi tetap beroperasi dengan meminta penumpang membayar tarif lebih besar dari tarif lama.
Begitu juga di Madiun, Jawa Timur, tarif bus antarkota sejak kemarin pagi naik 15 persen. Tarif bus dari Surabaya menuju Madiun yang dulunya Rp 17.500 kini Rp 20 ribu. Sedangkan Surabaya ke Yogyakarta, dari Rp 37 ribu menjadi Rp 43 ribu.
Sementara itu, Komisi Perhubungan DPR menilai ketidakjelasan penentuan tarif angkutan di berbagai daerah membuktikan pemerintah tidak siap dalam menangani dampak ikutan kenaikan harga BBM. Dari data yang dihimpun Komisi Perhubungan, rata-rata kenaikan tarif pascakenaikan BBM di berbagai daerah mencapai 30 persenan. Ini jauh dari batas toleransi kenaikan yang ditetapkan pemerintah.
Namun, Menteri Perhubungan Jusman Syafei Jamal menegaskan toleransi kenaikan tarif 15 persen telah melalui perhitungan yang detail terhadap beban transportasi nasional. Sedangkan mengenai penetapan tarif tergantung penetapan dari kepala daerah bersangkutan.(ADO/Liputan 6 SCTV)












Leave a Reply