Korban longsor di Tapaktuan mulai sakit
Akibat longsor gunung yang sudah berlangsung sepekan itu, suasana sedih makin menyelimuti para korban. Mereka tak tahu kapan bisa kembali ke rumah dan sampai kapan harus bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Sementara itu, batu-batu besar, pepohonan, dan lumpur masih saja berjatuhan dari puncak gunung setinggi 800 meter itu. Saking seringnya puncak gunung itu longsor, warga setempat mulai menjulukinya sebagai Gunung Reuloh (rusak).
Amatan Serambi di lokasi kemarin, longsor susulan yang terjadi Kamis sore menyebabkan cakupan wilayah yang tertimbun tanah dan lumpur kian meluas. Demikian pula jumlah rumah yang tergenang lumpur.
Sekdes Paya Ateuk, Diwan, melaporkan, peristiwa itu juga mengakibatkan kondisi kesehatan masyarakat pengsungsi mulai terganggu. Seperti dilaporkan petugas kesehatan yang berposko di Gedung Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) setempat, para pengungsi sudah mulai diserang bermacam penyakit. Seperti diare, gatal-gatal, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), hipotensi, dan alergi.
Asnidar Amd, petugas kesehatan yang berposko di pengungsian, mengatakan pengungsi yang terserang diare berjumlah 15 orang, demam 18, ISPA 20, hipotensi 11, serta puluhan orang lainnya gatal-gatal.
Selain itu, personel TNI berjumlah satu peleton yang dipimpin Danyonif 115/ML, Letkol Inf Triyono, juga melakukan pengobatan massal terhadap para korban longsor.
Terlihat pula warga yang dibantu satu peleton TNI Batalion 115/Macan Leuser mulai membersihkan saluran di tenda-tenda pengungsian maupun di rumah-rumah warga dari endapan lumpur setebal 0,5-1 meter dari permukaan rumah.
Sementara itu, Camat Pasie Raja Rasmidin Maudy di lokasi kejadian mengaku sangat prihatin melihat kondisi masyarakat yang sudah sepekan mendiami tenda-tenda pengungsian akibat rumahnya direndam tanah longsor.
Menurutnya, longsor yang telah menimbun 14 hektare (ha) lahan persawahan, ½ ha pemakan umum, 10 ha kebun kelapa/pala, 2,5 km saluran irigasi, merendam 63 unit rumah, serta menghancurkan rumah milik Jamal (38) merusak rumah milik Juhan (55) dan Dairah (70) itu diperkirakan akan terus terjadi sehubungan awan tebal masih bergantung di kawasan itu.
Melihat longsoran gunung yang makin hari makin parah itu membuat warga kian trauma dan belum berani kembali ke rumahnya, karena dikhawatirkan sewaktu-waktu akan terjadi lagi longsor susulan.
Untuk itu, ia mengharapkan kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten agar segera merelokasin masyarakat Dusun Keudai Pantai ke tempat lain yang dianggap lebih aman dari bencana alam.
Hal senada disampaikan Dandim 0107 Aceh Selatan, Letkol Arh Erwin Septiansyah dan Juru Bicara Kaukus Pantai Barat Selatan (KPBS) TAF Haikal yang mengaku sangat prihatin terhadap bencana yang menimpa 450 jiwa penduduk Dusun Keudai Pantai, Desa Paya Ateuk.
Nek Laili dimakamkan
Suasana haru biru terasa di Desa Paya Ateuk yang berjarak sekitar 25 km dari arah barat Tapaktuan, ibu kota Aceh Selatan ketika jenazah Laili (70) dimakamkan di pemakaman umum desa setempat, pagi kemarin.
Ibu tujuh orang anak dan belasan cucu itu meninggal, Kamis (5/6) sore setelah jatuh pingsan terkejut ketika mendengar suara gemuruh batu-batu dan pepohonan yang jatuh dari puncak gunung Paya Ateuk menyusul longsor susulan yang diawali guyuran hujan deras yang terjadi sejak siang.
Bantuan mengalir
Camat Pasie Raja juga melaporkan, bantuan masa panik untuk korban bencana masih terus mengalir dari pemkab setempat yang diserahkan Bupati Tgk Husin Yusuf didampingi Wabup Daska Aziz, Ketua DPRK H Abdul Salam, para kepala dinas, badan, dan kantor di lingkungan pemkab setempat.
Bantuan berupa beras, lauk pauk, mie instan, air mineral, dan makanan siap saji, bantuan juga mengalir dari lembaga organisasi kemasyarakatan YAPALA dan YGHL serta para donator lainnya.
Di hadapan para warga korban longsor, Bupati Aceh Selatan yang baru dilantik sekitar tiga bulan lalu itu meminta warga meningkatkan kewaspadaan. Selain itu pihaknya telah mengerahkan dua alat berat ke lokasi bencana.
Untuk membantu korban longsor di kawasan Gunung Paya Ateuk, Pasie Raja, Aceh Selatan, Dinas Sosial (Dinsos) Aceh, Jumat (6/6) siang telah mengirim barang bantuan dengan satu unit mobil khusus (dump luv) yang dilengkapi dapur umum.
Menurut Juru Bicara Dinsos Aceh, Drs Burhanuddin kepada Serambi, barang-barang yang dikirim ke Aceh Selatan, masing-masing kain sarung 100 potong, selimut 150 potong, daster 100 potong, baju kaos 200 buah, panci masak 100 unit, piring sembilan lusin, gelas 12 lusin, tikar 20 lembar, peti dumlap satu unit, family kits (peralatan rumah tangga) 30 buah, foodware (peralatan makan) 10 buat dan kain batik 200 lembar.
Sedangkan kebutuhan lain, seperti beras, mi instan, dan lauk pauk tidak dikirim dari Banda Aceh. Karena semua kebutuhan di luar yang dikirim dari Dinsos Aceh sudah tiba di Kantor Dinsos Aceh Selatan. “Dinsos Aceh hanya mengirim bantuan ke Aceh Selatan sesuai permintaan dari sana. Kalau beras dan lain-lain ada di Dinsos Aceh Selatan, jadi tidak perlu didrop dari Banda Aceh,” kata Burhanuddin.
Bila dibutuhkan untuk buka dapur umum langsung di lokasi dengan menggunakan mobil dump luv, kata Burhan, tidak ada masalah. Selain lima staf Dinsos Aceh yang telah dikirim ke sana, ratusan tenaga taruna siaga bencana dinsos siap bekerja siang malam. Kini, pihaknya hanya menunggu permintaan dari dinas sosial setempat. (az/hel – Serambi Indonesia)
Short URL: http://koranrakyat.net/?p=57







Assalamu’alaikum……
salam bahagia buat rekan-rekan semua, perkenalkan saya putra dari aceh selatan (Tapaktuan) sekarang kuliah di Unsyiah(FMIPA) saya butuh bantuan saudara untuk memberika data-data kelongsoran yang terjadi di aceh selatan, tepatnya di sekitar tapaktuan, karena saya dalam bulan ini sampai selesai sedang menyusun skripsi tentang penelitian gunung longsor di kabupaten aceh selatan, harap kirim semua data-data yang bisa saya ambil ke email ini : moch_amsar@yahoo.co.id
atas bantuan dan partisipasi sudara saya ucapkan terimakasih..
Wassaalam……..