WALHI ACEH Mengecam Pengalihan Aset SDA Aceh ”Terkait Pemindahan Harimau Aceh Ke Lampung”
Keberhasilan pelestarian harimau di Aceh dalam jangka panjang tidak dapat dicapai karena visi konservasi yang luas dengan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan justru tidak melindungi satwa tersebut dari habitat aslinya. Kita harus terus berupaya untuk menyelamatkan harimau. Namun demikian, pelestarian harimau memerlukan komitmen, kerjasama dan peran aktif seluruh pihak termasuk masyarakat, mitra lokal, pemerintah, dan lembaga internasional.
Pelestarian harimau harus dilakukan berdasarkan kajian ilmiah dan aksi konservasi yang berkesinambungan dan efektif, untuk mempertahankan populasi yang tersisa dan mengembalikan keberadaan spesies dilindungi ini ke wilayah jelajah alaminya. keberadaan harimau di hutan Aceh, memiliki peluang dan daya dukung yang cukup besar untuk konservasi harimau dalam jangka panjang. Hanya upayanya saja perlu di rubah yaitu harus menyentuh berbagai aspek penting, seperti perlindungan habitat, mitigasi konflik harimau - manusia, penghentian perburuan dan perdagangan illegal, pelibatan dan pemberdayaan masyarakat, serta reintroduksi harimau hasil penangkaran ke habitat alaminya.
Hal terpenting untuk penyelesaian konflik antara harimau dengan manusia adalah penyelesaian akar persoalan yang sebenarnya. Bukan dengan cara ringkas dan diam-diam memindahkan aset SDA Aceh (5 ekor harimau) ke taman Nasional Bukit Barisan Provinsi Lampung. Seperti yang dilansir media massa bahwa pada pukul 4 pagi, 26 Juni 2008, dari halaman kantor BKSDA NAD ke lima satwa langka tersebut dibawa ke Bandara Sultan Iskandar Muda. Serta dua jam kemudian diberangkatkan ke Lampung menggunakan pesawat Hercules sewaan.
Hal tersebut terjadi karena transparansi pihak-pihak yang terkait sangat di ragukan, serta buruknya pelaksanaan proyek-proyek yang katanya menyelamatkan sumber daya Alam (hutan dan satwa) Aceh yang saat ini dikelola oleh partikelir swasta seperti Yayasan Leuser Internasional (YLI) dan Flora Fauna Internasional (FFI). Dengan tegas Walhi Aceh mengecam para pihak yang punya kepentingan sesaat terhadap pengelolaan program lingkungan hidup yang tidak tepat sasaran.
Pemerintah pusat yang bertugas di Aceh dihimbau jangan mencari kepentingan yang merugikan SDA Aceh. Bekerjalah secara arif dan bijaksana Karena spesies ini terancam oleh kerusakan habitat dan perburuan. Walhi Aceh juga menegaskan agar harimau Aceh di kembalikan ke habitat asalnya di Aceh, kata Bambang Antariksa (Direktur Eksekutif WALHI Aceh). Oleh karena itu, berbagai upaya dan sumberdaya yang dikeluarkan untuk mendukung pelestarian habitat harimau di Aceh, tidak hanya akan menyelamatkan harimau, tetapi juga spesies satwa dilindungi lainnya.












Leave a Reply