Jangan lewatkan Ramadhan dengan sia-sia
Marhaban ya Ramadhan. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan 1429 H. Maka, sudah semestinya, sebagai seorang Muslim merindukannya. Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, “Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.” maka itulah mari kita berdoalah agar Allah swt ketika kita menyaksikan hilal atau terbitnya bulan Ramadhan, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam beliau berdiri menghadap kiblat dan berdoa kepada Allah, meminta keamanan dan keselamatan serta memohon agar Allah ‘Azza wa Jalla menemaninya dalam sholat, puasa, dan membaca Al Quran di dalam bulan Ramadhan. Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)
Bulan Sya’ban.
Nah, saudaraku sebelum datangnya bulan Ramadhan, ada yang bulan Sya’ban yang banyak menyumbang pahala bagi mereka yang mau berpuasa. Sebenarnya apasih hikmah dari puasa Sya’ban itu? Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban.” Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Bulan itu (Sya’ban) adalah bulan yang dilupakan oleh manusia, yaitu bulan di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Tuhan semesta alam. Aku suka amal-amalku diangkat, sementara aku sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i; disahihkan oleh Ibn Khuzaimah).
Pendek kata, puasa sunnah di bulan Sya’ban, di samping akan mendapatkan pahala yang besar dan keutamaan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, juga merupakan sarana latihan guna menyongsong datangnya Ramadhan. Al-Hafizh Ibn Rajab mengatakan, “Dikatakan tentang puasa pada bulan Sya’ban, bahwa puasa seseorang pada bulan itu merupakan latihan untuk menjalani puasa Ramadhan. Hal itu agar ia bisa memasuki puasa Ramadhan tidak dengan berat dan beban. Sebaliknya, dengan puasa Sya’ban, ia telah terlatih dan terbiasa melakukan puasa. Dengan puasa Sya’ban sebelumnya, ia telah menemukan lezat dan nikmatnya berpuasa. Dengan begitu, ia akan memasuki puasa Ramadhan dengan kuat, giat dan semangat.”
Para ulama di masa lalu sangat memperhatikan pelaksanaan semua amal kebaikan pada bulan Sya’ban. Mereka, sejak memasuki bulan Sya’ban, telah memperbanyak membaca al-Quran, menelaah dan memahami isinya dan men-tadabbur-i kandungannya. Bahkan Habib ibn Abi Tsabit, Salamah bin Kahil dan yang lain menyebut bulan Sya’ban ini sebagai Syahr al-Qurân. Bagaimana dengan bulan Sya’ban kita..?
Mari Sambut Ramadhan
Menyambut bulan suci Ramadhan janganlah kita dengan hura-hura dan bermain-main. Tapi yang harus kita lakukan dalam menyambut bulan yang mulia dengan dzikir dan bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta`alaa, karena masih diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan. Lalu hendaknya ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, kembali kepada Allah serta melakukan muhasabatun nafs (perhitungan dosa-dosa pribadi), baik yang kecil maupun yang besar, sebelum datang hari Perhitungan dan Pembalasan atas setiap amal yang baik maupun yang buruk.
Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan. Bulan Ramadhan adalah bulan murâqabah. Ramadhan juga adalah bulan pengorbanan di jalan Allah Subhaanahu wa Ta`alaa. Di dalamnya setiap muslim dituntut untuk berkorban dengan menahan rasa lapar dan dahaga demi meraih derajat taqwa. Taqwa adalah puncak hikmah dari ibadah shaum pada bulan Ramadhan. Perwujudan taqwa secara individu tidak lain adalah dengan melaksanakan semua perintah Allah Subhaanahu wa Ta`alaa dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun perwujudan taqwa secara kolektif adalah dengan menerapkan syariah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Puasa Ramadhan tentu kurang bermakna, jika tidak ditindaklanjuti oleh pelaksanaan syariah secara kaffah dalam kehidupan, karena justru itulah sesungguhnya wujud ketaqwaan yang hakiki. Sesungguhnya, ada apanya di dalam Ramadhan itu, ikutilah berikut ini:
1. Gelar taqwa
Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah Subhaanahu wa Ta`alaa. Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin lulus dengan hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa tersebut. Sebagaimana Allah Subhaanahu wa Ta`alaa berfirman dalam Al-quran-Nya yang suci. “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS al-Baqarah: 2 [183])
2. Bulan pengampunan
Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan berjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah‘Azza wa Jalla telah menyediakan alat penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan. Beberapa hadis menyatakan demikian, salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu Dawud, “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni.”
Saudaraku sekalian, kita sekarang sedang dinaungi oleh bulan yang mulia dimana Allah ‘Azza wa Jalla melipat gandakan pahala dan karunia-Nya, membukakan pintu-pintu kebaikan bagi siapa saja yang Ia sukai. Pintu-pintu surga dibuka karena banyaknya amal shalih serta sebagai dorongan kepada orang-orang yang mau beramal shalih. Pintu-pintu neraka ditutup karena sedikitnya kemaksiatan dari orang beriman. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita mulai mencicil tabungan akhirat ini dengan banyak beramal shalih. Nggak usah bingung…mulai dari yang kecil dulu…dan, nggak usah muluk-muluk…mulai dulu dari diri kita sendiri, karena Allah ‘Azza wa Jalla itu senang dengan amal yang rutin walau kayaknya kecil.
3. Pahalanya dilipatgandakan.
Tidak hanya pengampunan dosa, Allah Subhaanahu wa Ta`alaa juga telah menyediakan bonus tak ada matinya berupa pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini.Hal ini sesuian dengan apa yang disabda Rasulullah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Di surga itu terdapat sebuah pintu yang disebut dengan pintu Rayyan. Pintu itu hanya akan dilalui kelak di hari Kiamat oleh mereka yang berpuasa dan tidak akan pernah dimasuki oleh orang selain mereka yang berpuasa. Apabila orang-orang yang berpuasa telah masuk, maka pintu itu dengan sendirinya akan terkunci, dan tidak dapat masuk melaluinya seorangpun. Demikian juga apabila orang yang paling akhir memasuki pintu tersebut, maka ia akan terkunci dengan sendirinya. Barang siapa yang masuk ke dalam surga melalui pintu tersebut, ia akan minum, dan siapa yang minum, maka ia tidak akan pernah merasa kehausan selamanya” (HR.Bukhari Muslim). Di lain kesempatan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, “Setiap amal anak keturunan Adam dilipat gandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya.” (HR. Bukhari Muslim). Saudaraku amalan-amalan sunnah yang kita kerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakan amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah). Maka mari kita perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala di bulan ini.
4. Syahrut-Tarbiyah (Bulan Pendidikan).
Kenapa bulan Ramadhan disebut dengan syahrut Tarbiyah/bulan pendidikan, karena pada bulan ini kita dididik langsung oleh Allah ‘Azza wa Jalla. seperti makan pada waktunya sehingga kesehatan kita terjaga. Atau kita diajarkan oleh supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan kita. Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah.
5. Menjalin Ukhuwah
Ukhuwah zaman sekarang sudah sedemikian rapuh. Sikap individualistis begitu menonjol. Sudah tidak ada lagi sikap teposeliro. Sikap asah, asih, dan asuh yang kesemua berjalan sendiri-sendiri, dan mau menang sendiri. Saudaraku ukhuwah zaman sekarang cenderung kepada materi. Kalau ada yang akan diharapkan dan saling ketergantungan, baru ada ukhuwah. Kalau tidak, maka tidak. Dengan ibadah puasa diharapkan akan lahir jiwa yang tulus dan sifat kebersamaan. Yaitu rasa senasib sepenanggungan, yang dibubuhi oleh tali akidah dan ukhuwah. Di mana orang kaya dapat merasakan penderitaan orang miskin yang terkadang makan terkadang tidak. Dikarenakan rasa ukhuwah yang ditimbulkan oleh ibadah puasa ini, diharapkan orang yang kaya hatinya akan tersentuh untuk membantu saudaranya seakidah itu, dengan membagi dan mengeluarkan sebahagian dari kekayaannya.
6. Meningkatkan kesehatan.
Berpuasa adalah ibadah mahdhah. Tapi orang yang berpuasa juga sebenarnya adalah orang yang peduli dengan kesehatan. Makanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. berkata, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.” Tak heran jika selama berpuasa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. tetap memperhatikan kesehatan giginya dengan bersiwak, berobat dengan berbekam, dan memperhatikan penampilan, termasuk tidak berwajah cemberut.
Lagipun sudah banyak bukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya,
a. Dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat.Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.
b. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker.
c. Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.
d. Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas, mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.
7. Berkumpul dengan sanak keluarga
Saudaraku, setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat. Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan waktunya. Zakat disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api neraka.
Ingatlah, harta yang barakah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan sehingga ada sebuah ketenangan dalam dalam menyambut tanggal 1 Syawal yang tentunya akan melahirkan hati yang bening dan harta yang suci. Nah, sebagai pemenang kita wajib merayakan Hari kemenangan pada Raya Idhul Fitri
dengan sebuah kemenangan yang hebat setelah setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan mudik ke kampung halaman.
Saudaraku, Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran kita Islam bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya saja. Tetapi itu juga tidak dilarang. Justru itu momentum Hari Raya bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang lain. Padahal silahturahim itu dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadis, Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi!? (HR. Bukhari).
Akhir qalam mari kita semua memulai sesuatu yang baru dan bermanfaat. Ayo kita ulang kembali pelajarilah Islam dengan baik sesuai dengan pemahaman para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka. Berpuasalah pada hari ini dengan menahan diri dari segala keinginan hawa nafsu agar kita bisa mendapatkan hari raya ketika bertemu dengan-Nya. Wallahu A’lam.
Tulisan diatas ditulis oleh: Martonis Tony
Lampiran
- Buku yang pernah di tulis dan dipublikasikan :
Buku pengembangan diri dengan judul, Nyata Satu Tumbuh Seribu, penerbit Pro-U Media, Yojyakarta 2008. Dengan nomor ISBN : 979-16661-5-6













Leave a Reply