pembagian BLT disunat perangkat Desa


13/11/2008 | Zainul Arifin | Jawa Timur | 32 klik |

Jombang - Pembagian dana Bantuan Tunai Langsung (BLT) di Desa Nglele, Kecamatan, Sumobito, Jombang belum berjalan mulus. Pasalnya, pencairan dana BLT tahap kedua tersebut disunat untuk dibagikan kepada warga desa dengan alasan agar mendapatkan semua dan menghindari terjadinya konflik. Pemotongan BLT tersebut dilakukan saat pembagian BLT didesa setempat.

Seperti diungkapkan Su’adah (50), warga Dusun Nglele, mengaku jika modus penyunatan dana dilakukan perangkat desa sangat halus. Penyunatan dana BLT itu dilakukan ketika warga sudah menerima BLT dana tahap kedua. “Waktu menerima BLT dananya memang utuh,” ujar Su’adah, saat ditemui di rumahnya. Kemarin, Minggu, (09/11)

Namun, masih lanjut Su’adah, persoalan muncul ketika ia seusai menerima BLT, selang beberapa saat dirinya diajak salah satu perangkat desa kedalam kantor dan diminta untuk menyerahkan sebagian dana BLT yang didapatnya. Potongan setiap warga berbeda, tergantung besaran BLT yang diterima warga. Ada yang dipotong 200 rb dan ada yang 100 rb. “Karena tahap pertama saya tidak menerima, lalu tahap kedua saya menerima sebesar 700 Rb dan dipotong 200 Rb,” tambahnya.

Hal tersebut sama halnya yang dialami oleh Srianti (60), seharusnya ia menerima dana BLT sebesar 400 rb, namun lagi-lagi aparat desa setempat memotong dana tersebut sebesar 100 rb dengan alasan untuk dibagikan kepada warga yang tidak menerima BLT.

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Desa Nglele secara terang-terangan membenarkan bahwa telah terjadi penyunatan anggaran dana yang dikucurkan pemerintah tersebut. Menurut Sekdes yang tidak bersedia disebut namanya itu, ia bersama perangkat lainnya memotong dana BLT atas perintah resmi dari Kepala Desa. Hasil penyunatan itu akan dibagikan kepada warga yang tidak menerima BLT.

“Guna menghindari konflik antar warga, maka Melalui surat perintah resmi dari kades, setiap penerima BLT akan dipotong dan hasil pemotongan tersebut dibagikan kepada warga yang tidak menerima, masing-masing rumah mendapatkan sebesar 20 ribu,” ujarnya.

Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Desa Nglele, Khoirul Anam, beberapa kali dihubungi melalui ponselnya tidak pernah dijawab. Saat dikunjungi kerumahnya tidak bersedia ditemui dengan berbagai alasan. “Bapak sedang tidur dan tidak bisa diganggu,” kata Istri Khoirul Anam.

Hasil beberapa informasi yang didapat melalui beberapa warga setempat, penyunatan BLT yang terjadi di desa itu bukan kali pertamanya dilakukan. Sebelumnya, sebanyak 64 orang yang menerima BLT pada putaran pertama juga dilakukan pemotongan oleh aparat setempat. (ZEN/KRO)

This entry was posted on Thursday, November 13th, 2008 and is filed under Jawa Timur. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.


Leave a Reply

Baca Juga

No related posts

SPONSORED LINKS

>
Ir.Hidayatul Nurohma. Caleg DPR RI jatim VIII

BOOKMARKS

    Subscribe

Ads

Jadi Kontributor

Ingin bergabung menjadi Kontributor?
Kirimkan berita Anda ke:
berita[at]koranrakyat.net.
Berita akan segera Terbit.


Add to Technorati Favorites
Subscribe with Bloglines
Bloglisting.net - The internets fastest growing blog directory

SEO: search engine optimisation and submission