Tempat Sejarah Kian Merana
KoranRakyat.net | Jakarta
Dibangunnya tempat sejarah atau monument, untuk mengenang sebuah peristiwa sejarah, namun kini nasib monumen di Jakarta kian merana. Hanya pada saat, saat event tertentu monument tersebut dipenuhi pengunjung, untuk peringatan kejadian sejarah, dan bangunan itu dibangun hanya untuk peresmian sebuah event atau peringatan kejadian bersejarah. Setelah itu, dilupakan bahkan dibiarkan kesepian di belantara Ibu Kota. Huruf-huruf di Tugu Monumen Kesetiakawanan Sosial Nasional di Senen Jakarta Pusat sudah tidak jelas lagi. Sebagian di antaranya hilang entah ke mana. Sementara yang tertinggal tetap terpatri, tapi bentuknya sudah tidak beraturan ada yang miring. Lingkungan di sekitarnya pun tidak kalah buruk seperti huruf-huruf tersebut. Bau tak sedap ,yang dihasilkan dari pembuangan air seni oleh orang tak bertangggung jawab, menyeruak saat mendaki undakan tangga ke atas tugu. Lantai di sekitarnya pecah-pecah, kotor oleh tumpahan kopi, sisa lumpur dan sampah. Pilar-pilar juga sama buruknya karena dicoret-coret.
Luasnya kawasan Tugu Monumen Kesetiakawanan Sosial Nasional dimanfaatkan bermain bola kaki. Selain itu menjadi lahan subur bagi para pedagang asongan untuk menjajakan dagangan, serta pemulung untuk sekedar berteduh di terik matahari siang, dan Pada siang yang panas itu Slamet (60 th), pemulung yang sehari-harinya mencari kaleng dan plastik bekas di kawasan Senen dan Kemayoran, berteduh di bawah pilar. Tidak hanya Slamet yang ada di sana. Di sampingnya ada Dani (40 th), seorang tukang kopi keliling ikut duduk di samping Slamet. “Saya sedang berteduh saja, barusan keliling mencari barang bekas,” kata pria bertubuh ringkih ini pelan.
Tidak lama-lama dia di sana, apalagi berniat tidur. Sebab sewaktu-waktu Satuan Polisi Pamong Praja bisa menangkapi mereka yang sedang menggembel di sekitar Tugu Monumen Kesetiakawanan Sosial ini. Jika lama-lama mangkal di sana, kata Slamet, bisa-bisa dirinya akan kembali dikirim ke Panti Sosial Kedoya dan disuruh pulang ke kampung halamannya di Surabaya. “Saya tidak pernah tidur di sekitar tugu ini karena takut ditangkap Tramtib,” katanya. Suasana ramai dan hiruk pikuk kendaraan ini jauh berbeda dengan kondisi Monumen Pembebasan Irian Barat di Jalan Lapangan Banteng. Di tempat yang dikelilingi taman ini ada sekitar tiga orang joging mengelilingi taman berlantai ubin itu. Erwin (40), penjaga Monumen Irian Barat, mengaku kawasan ini dulu sempat menjadi tempat hunian gelandangan di malam hari terutama pada bagian bawah bekas ruangan yang pernah menjadi loket tiket bus saat kawasan ini menjadi terminal dan bagian jembatan. (M. Joko YP)
Short URL: http://koranrakyat.net/?p=697






