Mahasiswa Akan Kepung DPR tanggal 1 Desember 2009
KoranRakyat.net | Press Release
Terbongkarnya skandal kriminalisasi pimpinan KPK yang dilatarbelakangi skandal bailout Bank Century mengilhami beberapa organisasi mahasiswa ekstra kampus menggelar mimbar bebas di halaman gedung dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta. Acara bertajuk “Mimbar Demokrasi, Selamatkan Indonesia dari Korupsi!” ini berlangsung sejak senin (23/11/2009) dan berakhir hari ini, Rabu (25/11/2009). Pada hari terakhir, tampil sebagai orator Ton Abdillah (Sekjen DPP IMM), Cokro Wibowo (Sekjen Presidium GMNI), Sures (Presidium KMHDI), Romo Benny Susetyo, Ray Rangkuti (KOMPAK), dan Abdul Mukti (Direktur CDCC).
Dalam orasinya, Sekjen DPP IMM menjelaskan bahwa mimbar kebangsaan digelar sebagai upaya untuk mempersatukan kekuatan kritik yang saat ini sedang tumbuh di tengah kelompok sivil society. Kegundahan publik atas kasus kriminalisasi KPK dan skandal Bank Century harus dikanalisasi menjadi energi untuk mendorong perubahan yang lebih nyata dalam tatanan kehidupan bangsa dan negara. “Semua tokoh, intelektual, pimpinan ormas, OKP pemuda dan mahasiswa yang hadir telah bersepakat untuk melakukan aksi demonstrasi besar-besaran guna mengepung gedung DPR saat sidang paripurna DPR pada tanggal 1 Desember 2009, serta pada hari anti korupsi di lapangan silang Monas tanggal 9 Desember 2009, guna mendorong perubahan untuk Indonesia lebih baik tanpa korupsi”, ungkap Abdillah.
“Kasus Pelemahan KPK dan skandal Bank Century merupakan kejahatan yang harus dilawan tanpa kompromi. Uang negara sebesar 6,7 trilyun rupiah yang digunakan dalam bailout Bank Century harus dikembalikan dan semua aktor yang terlibat dihukum seberat-beratnya. Mahasiswa dan rakyat tidak akan berhenti mendesak institusi-institusi terkait dan Presiden SBY untuk mengusut kedua kasus ini hingga tuntas”, ujar Abdillah dalam orasinya. “Bahkan jika skandal Bank Century pada akhirnya terbukti melibatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan mantan Gubernur BI Boediono, kami mendesak keduanya diproses secara hukum, karena bailout 6,7 trilyun Bank century adalah perampokan uang rakyat”, tandas Abdillah.
Sementara Cokro Wibowo dari GMNI menyoroti kegagalan pemerintahan SBY dalam menyelesaikan konflik KPK – Polri dan Kejaksaan Agung. Menurut Cokro, kelambanan Presiden SBY dalam menyelesaikan kasus Bibit – Chandra dan skandal Bank Century telah membuat publik manaruh kecurigaan besar atas skandal ini. “Reaksi mahasiswa dan kelompok pro demokrasi lainnya melalui aksi-aksi demonstrasi adalah respons moral atas kedua skandal tersebut dan kami menyerukan persatuan seluruh kekuatan sivil society untuk mendesakkan perubahan nyata”, tegas Cokro dalam orasinya.
Dalam kesempatan berikutnya, aktivis KOMPAK Ray Rangkuti mengingatkan mahasiswa untuk menjaga stamina gerakan. Menurut Ray, upaya Presiden SBY mengulur-ngulur waktu adalah tantangan tersendiri bagi gerakan mahasiswa dalam menjaga konsistensi perjuangan. “SBY melakukan buying time, setelah membentuk TPF yang bekerja selama dua minggu, kemudiaan dipelajari dulu oleh Presiden SBY selama seminggu, dan keputusan akhirnya pasca pidato SBY kemarin diserahkan kepada Jaksa Agung yang memerlukan waktu dua minggu. Aktivis mahasiswa harus merubahnya menjadi stamina gerakan,” ujar Ray Rangkuti. (Ton Abdillah)
Short URL: http://koranrakyat.net/?p=8479






