GM Memang Lebay!

Oleh Fahmi Faqih*

Lebay dot com deh,” kata seorang kawan, ketika mendengar kabar bahwa Goenawan Mohamad mengembalikan uang penghargaan Ahmad Bakrie Award yang pernah ia terima di tahun 2004 untuk sumbangsihnya di bidang kesusastraan.

“Lho, bukankah itu artinya Mas Goen memang benar-benar seorang intelektual yang memiliki integritas dan keberpihakan kepada masyarakat kecil yang jadi korban kesewenang-wenangan pengusaha macam Aburizal Bakrie,” kata saya menimpali.

“Integritas? Keberpihakan? Wah, rupanya kamu sudah sedemikian terpesona kapada Goenawan Mohamad hingga kalimat yang seharusnya disandangkan kepada orang yang sudah teruji kredibilitas dan kepeduliannya kepada masyarakat, kau berikan pula padanya,” kata kawan saya itu lagi.

“Ok, saya hargai pendapatmu. Tapi coba tunjukkan atas dasar apa kamu mengatakan Mas Goen berlebihan (dengan istilah lebay dot com tadi),” cecar saya.

Kawan saya itupun mulai menjelaskan alasannya:

“Bagiku, GM itu adalah intelektual yang tidak konsisten. Dulu, misalnya, ketika mendapatkan hadiah 250 ribu dolar AS dari Dan David Prize di tahun 2006, GM bilang akan menyumbangkannya untuk Jurnal Kalam. Tapi nyatanya, Jurnal Kalam malah tidak terbit lagi. Yang lain, coba kamu buka buku otobiografi Ajip Rosidi “Hidup Tanpa Ijazah” halaman 421-422. Di buku itu Ajip menuliskan keterkejutannya atas sikap GM yang juga menolak anugerah seni di tahun 1972 dimana Ayip menjadi salah satu dewan jurinya. Ajip membaca penolakan GM atas penghargaan itu di sk. Sinar Harapan. Dalam pemberitaan itu dimuatkan juga alasan penolakan tersebut. GM mengatakan bahwa para seniman dan sastrawan belum patut mendapat penghargaan karena belum melahirkan karya yang berarti. Anugerah seni itu disertai dengan sejumlah uang yang besarnya 250.000 – dua setengah kali bantuan kepada setiap desa yang besarnya 100.000. Ayip kagum sekali ketika membaca alasan itu dan menganggap GM sebagai orang muda yang peduli dan memiliki sikap kerakyatan. Tetapi ketika Ajip ke Jakarta, kabar yang ia dapat lain, GM telah menerima uangnya dari P & K. Lalu ketika Ajip menanyakannya langsung kepada GM sewaktu bertemu di kantor redaksi Harian Kami, jawaban GM singkat saja: “habis perlu!” Nah, apa kamu masih tetap mengagumi intelektual seperti ini? Baca juga alasan penolakan GM itu di tempointeraktif.com.  Di sana ditulis “Budayawan ini mengaku, sebelumnya berusaha memisahkan urusan Bakrie Award dengan langkah Aburizal sebagai tokoh politik dan bisnis. Namun kekecewaan itu mencapai puncak, ketika muncul masalah Sri Mulyani dan Boediono.” Bayangkah, betapa yang menjadi pemicu pengembalian uang penghargaan itu adalah ketika muncul masalah Sri Mulyani dan Boediono, dan bukan lantaran GM memang peduli atas nasib korban Lapindo! Sebab kalau memang benar GM berempati kepada para korban Lapindo, harusnya uang Ahmad Bakrie Award itu ia kembalikan di awal-awal ketika Lapindo telah menyengsarakan begitu banyak orang di Porong Sidoarjo sana! Ayo, apa kamu masih mau bilang GM punya integritas?” pungkas kawan saya.

Saya terdiam. Hati saya jengkel luar biasa. Bukan lantaran sekian bukti yang tak terbantahkan yang telah dijelentrehkannya itu. Tapi oleh kenyataan bahwa mencari orang jujur di negeri ini ternyata memang sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami. Seberlalunya kawan saya itu dari hadapan, saya pun berteriak nyaring: “GM, kamu memang lebayyyyyy!!

Fahmi Faqih, Penyair, Tinggal di Bandung.

Short URL: http://koranrakyat.net/?p=8806

Posted by Fahmi Faqih on 22 Jul 2010. Filed under Opini. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Photo Gallery

120x600 ad code [Inner pages]
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes
Log in | Proudly hosted and designed by e-Padi.com hosting murah