Archive for the ‘NAD’ Category

Berlatih Komunikasi dan Kepemimpinan

Friday, March 6th, 2009

KoranRakyat.net | Banda Aceh
Di Kutaradja Banda Aceh TM Club
Berbicara di depan umum merupakan hal yang menakutkan bagi sebagian besar orang. Seringkali karena gugup, pada saat tampil di depan, malah tidak ada kata yang terucap satu patah katapun. Sebaliknya, ada pula orang yang pada saat mendapat kesempatan bicara, terus berbicara panjang lebar dan tidak dapat berhenti.

Pada awal bulan Juli 2008, sekelompok anak muda di Banda Aceh memutuskan untuk mendirikan klub Toastmaster. Tujuannya agar masyarakat Banda Aceh khususnya kaum muda  dapat memiliki wadah untuk berlatih komunikasi dan kepemimpinan. (Lihat: Apa itu Toastmaster?)

Saat ini anggotanya berjumlah 27 orang dari berbagai macam profesi dan latar belakang. Klub ini menggunakan Bahasa Inggris untuk melatih kemampuan Bahasa Inggris.

Dari Kita untuk Kita

“Di klub Toastmaster, prinsipnya adalah teman membantu teman. Tidak ada guru dan murid disini. Semua orang saling membantu.“ kata Diella Dachlan, Club President Kutaradja Banda Aceh Toastmaster Club. “Anggota belajar melalui buku manual, memberikan pidato dan evaluasi yang diberikan oleh teman”

Setiap pertemuan memiliki tiga sesi yaitu Table Topic Session dimana baik tamu maupun anggota berlatih berbicara tanpa persiapan melalui permainan-permainan. Sedangkan Sesi ke -2 yaitu Prepared Speech atau menyampaikan pidato. Sesi ini khusus anggota Toastmaster. Sesi terakhir adalah sesi evaluasi, dimana pidato akan dievaluasi oleh anggota Toasmaster lainnya.

“Di Toastmaster, kami belajar bicara sesuai dengan waktu yang dialokasikan. Yang menarik adalah karena ada teman-teman yang mengambil peran dalam setiap pertemuan. Misanya sebagai Evaluator pidato, Penghitung kata-kata pengisi seperti ”ah..”, ”ehmm..” atau yang disebut dengan Ah Counter” Kata Isnaini Djalil, Vice President of Education, yang berasal dari Banda Aceh. “Lalu ada Timer, atau teman yang menghitung waktu pembicara. Dan ada juga General Evaluator yang berperan mengevaluasi jalannya pertemuan dari awal hingga akhir. Lalu ada pula Language Evaluator yang berperan untuk menganalisa atau memberikan tips untuk penggunaan tata bahasa, serta ada Toastmaster of the Meeting yang berfungsi sebagai MC dalam pertemuan”.

Ada pula manual Competent Leadership, dimana anggota dapat berlatih kepemimpinan dengan mengambil peran dalam setiap pertemuan. Beberapa program kepemimpinan antara lain adalah, kemampuan mendengarkan, fasilitasi, memotivasi dan memberikan masukan, berpikir kritis, dsb.

Muhammad Nizar, anggota dan Sekretaris klub, mengatakan ”Saya belajar banyak untuk mengatasi kegugupan berbicara di depan umum. Toastmaster juga membantu saya untuk belajar mengorganisasikan pemikiran secara logis dan sistematis” Kata M.Nizar yang juga bekerja sebagai Jurnalis paruh waktu.

”Ternyata banyak manfaat dari berlatih komunikasi dan kepemimpinan di klub ini yang akhirnya dapat membantu saya dalam melaksanakan pekerjaan saya” Kata Eva Muharti, yang bekerja di salah satu lembaga PBB di Banda Aceh.

Kutaradja BA TMC mengadakan pertemuan mingguan, setiap hari Sabtu jam 15.00 – 18.10 di Kok Phin Kitchen Setui lantai 3. Pertemuan ini terbuka untuk umum dan tidak perlu menjadi anggota untuk menghadiri pertemuan. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi : Vice President of Membership, Nurul Fitri, 0812 656 5619, nurulfitri@yahoo.com.

Apa itu Toastmaster?

Toastmaster club adalah sebuah komunitas non-profit sebagai wadah untuk berlatih komunikasi dan kepemimpinan. Toastmaster didirikan di Santa Ana, California, USA pada tahun 1924. Hingga kini Toastmaster telah memiliki 235,000 anggota di 11,700 klub di 92 negara seluruh dunia.

Lebih jauh mengenai Toastmaster, silahkan mengunjungi website :

www.toastmasters.org atau www.kutaradjabandaaceh.org.

Pengurus Klub Kutaradja Banda Aceh Toastmaster Club

ClUB MENTOR :
Sebastian Liadi (Saputra)
Email: sebastianliadi@yahoo.com

PRESIDENT
Diella Dachlan (Diella)
0812 699 1779
Email : diella.dachlan@gmail.com

VP EDUCATION
Isnaini Djalil (Is)
0813 600 54774
Email :isnaini.adjalil@gmail.com

VP MEMBERSHIP
Nurul Fitri (Nurul)
0812 656 5619
Email:nurulfitri@yahoo.com

VP PUBLIC RELATION
Wan Putra

0812 111 3932
Email: wanputra@wanputra.com

SECRETARY
Muhammad Nizar (Nizar)
0852 606 04262
Email: mnizar.abdurrani@gmail.com

TREASURER
Eva Muharti (Eva)
0855 100 3348
Email : eva_muharti@yahoo.com

SERGEANT AT ARMS
Rikky Mulyawan (Rikky)
O812 693 7264
Email : rqadianz@gmail.com

Survey kondisi fasilitas permukiman di tiga Kabupaten Provinsi Aceh

Wednesday, February 4th, 2009

unh-new-logoUN-HABITAT | Banda Aceh
Meningkatkan kualitas air dan sanitasi merupakan komponen yang penting dalam pembangunan kembali permukiman masyarakat pasca Tsunami di Aceh dan Nias. Namun dalam pelaksanaannya, hal ini merupakan sebuah tantangan tersendiri. United Nations Human Settlements Programme (UN-HABITAT) dengan dukungan dana dari Asian Development Bank (ADB) melaksanakan program survey untuk kondisi fasilitas sanitasi yang ada saat ini di permukiman yang dibangun pasca tsunami. Program ini disebut sebagai Aceh Sanitation Assessment and Assistance Programme (ASAAP)

Survey fasilitas sanitasi ini akan dilakukan untuk sekitar 2,500 rumah di 12 desa di tiga kabupaten di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yaitu Aceh Barat (Meulaboh), Aceh Besar dan Banda Aceh. Survey sejak pertengahan bulan Desember yang lalu dimulai dari desa Baet (Aceh Besar) dan setelah itu Gampong Pande (Banda Aceh). Hingga akhir Januari 2009, tim surveyor yang terdiri dari staf UN-HABITAT dan fasilitator masyarakat dari desa Baet dan Gampong Pande telah menyelesaikan sekitar 890 rumah.

Sebelum ke lapangan, 20 surveyor UN-HABITAT dan 14 fasilitator masyarakat Baet dan Gampong Pande mengikuti pelatihan singkat untuk mempelajari teknik survey, hal-hal yang diperhatikan di lapangan, pengisian kuesioner dan lain sebagainya. Pelatihan ini bekerjasama dengan lembaga Environmental Services Program (ESP).

Standar yang digunakan adalah Standar Nasional Indonesia, yang dalam hal ini mengacu pada buku “Petunjuk Pemilihan dan Pelaksanaan Sistem Sanitasi yang Berkelanjutan untuk Rekonstruksi di Aceh dan Nias” yang diterbitkan oleh Departemen Bina Marga dan Cipta Karya, BRR serta berbagai insititusi lainnya.

Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Propinsi NAD, Dr. Ir. Muchyan Yunan MSc, menyatakan “Secara umum, di Propinsi NAD, belum ada perencanaan yang matang dan pengelolaan sistem sanitasi serta limbah secara terpadu. Hal ini masih merupakan kekurangan yang berusaha kami tingkatkan” Beliau menyambut baik adanya survey sanitasi yang dilakukan oleh UN-HABITAT dan ETESP-ADB (Asian Development Bank-Earthquake and Tsunami Emergency Support Project). “Dengan adanya survey dan database sistem sanitasi permukiman, hal ini akan dapat membantu pemerintah untuk mengambil tindakan yang tepat.” Hal lain yang ditekankan oleh beliau adalah pentingnya sosialisasi dan pendidikan kepada masyarakat. “Hal ini sangat penting dilakukan, terutama di pedesaan. Meskipun sistem sanitasi-nya sudah bagus, tetapi akan percuma jika masyarakat tidak menggunakan dan memeliharanya. Karena itu pendidikan dan sosialisasi juga merupakan komponen program yang amat penting”.

Mr. Pieter Smidt, Kepala Program ETESP-ADB Sumatera, mengatakan bahwa pengadaan sistem sanitasi yang memenuhi standar nasional dan dapat melindungi kesehatan masyarakat, merupakan tantangan besar yang dialami oleh sebagian besar lembaga yang bekerja dalam rekonstruksi Aceh dan Nias. Karena itu, masih banyak sistem sanitasi yang telah dibangun membutuhkan perbaikan lebih lanjut.

“Sanitasi yang berkelanjutan merupakan salah satu poin yang ingin dicapai dalam target MDG (Millenium Development Goal). Hal ini membutuhkan komitmen yang kuat dari Pemerintah dan mitra lembaga seperti ADB dan UN-HABITAT. ASAAP akan membantu untuk meningkatkan sistem sanitasi rumah tangga yang dibangun dibawah komponen program ADB-ETESP.” Kata Mr. Pieter Smidt, “Salah satu tujuan memperbaiki sistem sanitasi ini adalah untuk mengurangi resiko penyakit akibat kurang baiknya kondisi sanitasi serta dapat meningkatkan tingkat kehidupan masyarakat penerima bantuan”.

Sebagian besar rumah pasca tsunami dibangun kembali di plot tanah yang telah ada. Dalam kaitannya dengan fasilitas sanitasi yang dibangun seperti septic tank, masalah yang dihadapi antara lain adalah tingginya permukaan air tanah, terbatasnya lahan untuk membangun fasilitas bak serap yang berfungsi sebagai salah satu syarat sistem pengolahan air kotor (waste water treatment). Belum lagi masalah kualitas konstruksi septic tank yang kurang baik hingga fungsi septic tank tidak berjalan semestinya.

Kualitas septic tank yang kurang baik, tidak kedap air yang mengakibatkan merembesnya air kotor ke dalam tanah sehingga mencemari air tanah serta tidak adanya pengolahan air kotor, dalam jangka panjang akan mengakibatkan pencemaran lingkungan. Tercemarnya air tanah juga akan berdampak pada kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut terutama yang menggunakan sumber air dari air tanah seperti sumur dangkal.

Menurut target, survey ini akan dilakukan selama kurang lebih lima bulan. Komponen lain program ASAAP ini juga meliputi database fasilitas sanitasi kondisi saat ini, rencana tindak lanjut serta program pendidikan dan peningkatan kepedulian sanitasi masyarakat.

UN-HABITAT DI ACEH DAN NIAS

Mendukung pemulihan pemukiman bekerjasama dengan masyarakat dan institusi baik pemerintah maupun lembaga non-pemerintah. Program ini telah menyelesaikan:

· 4500 rumah dengan prasarana dasar (air dan sanitasi) di 6 wilayah kabupaten Aceh dan Nias
· 4 kecamatan perencanaan tata ruang yang partisipatif
· 100 organisasi didukung melalui informasi sektor perumahan dan kebijakan kepada BRR
· Pihak ke-3 monitoring dan evaluasi di seluruh wilayah Aceh bekerjasama dengan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah)
· 26 desa dibantu dengan pengadaan infrastruktur dasar bekerjasama dengan BRR dan organisasi lain

—- Update Februari 2009 —

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi:

Diella Dachlan
Public Information UN-HABITAT
Tel : 0812 6991779
Email : diella@unhabitat-indonesia.org
Web : http://www.unhabitat-indonesia.org

Rekening ‘Siluman’ Dana HPH di IAIN Ar Raniry

Thursday, September 18th, 2008

TAK habis-habisnya isu hutan bergulir di Aceh. Mulai kasus illegal logging, hingga ‘kehilafan’ pemerintah dalam menerapkan kebijakan pengelolaan hutan. Banyaknya tudingan perorangan maupun kelompok tertentu terhadap ‘kaum’ kapitalis HPH turut terseret menyangkut pertanggungjawaban mereka terhadap pemanfaatan hutan Aceh.

Hal ini dirasakan pula oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar Raniry. Lembaga pendidikan ini dituduh telah menerima dan menikmati dana perambahan hutan di Aceh Barat seluas lebih kurang 80.804 hektare. Namun tuduhan tersebut di bantah tegas oleh orang nomor satu lembaga Islam ini. “Hingga saya menjabat, IAIN belum pernah menerima dana dari perusahaan itu dalam bentuk apapun. Apalagi mengetahui adanya saham—IAIN—di PT Aceh Inti Timber Co Ltd,” tegas Rektor IAIN Ar Raniry, Yusni Sabi di ruang kerjanya Senin (15/9).

Namun arus tudingan itu makin menguat. Pasalnya, dalam satu pekan ini beredar surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan (Kepmenhutbun) Nomor 859/Kpts-VI/1999. Dalam Kepmenhutbun setebal lima halaman menyebutkan; diikutsertakan Koperasi masyarakat setempat (termasuk pondok pesantren) sebesar 15 persen, Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry sebesar 10 persen dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebesar 10 persen dari Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di Aceh Barat—tak disebutkan nama koperasi masyarakat atau pondok pesantren dan BUMD penerima bagi hasil itu.

Yusni Sabi mengatakan, selama ini dirinya tidak pernah mengetahui perambahan hutan tersebut, apalagi pihaknya dituduh telah menerima dan menikmati dana itu. “Waktu itu saya belum menjabat sebagai Rektor di IAIN Ar Raniry. Masa tersebut di pimpin oleh Profesor Safwan Idris (almarhum),” tambahnya.

Semenjak mencuatnya kasus ini, Yusni sudah menelusuri ada-tidaknya penerimaan dana tersebut melalui rekening-rekening milik Universitas IAIN Ar Raniry. Namun, pihaknya hingga kini belum menemukan bukti bahwa lembaganya telah menerima dana di maksud.

“Jika memang dana itu ada di kirim melalui rekening milik Universitas IAIN Ar Raniry, pasti ada bukti slip pengiriman dan data dari bank,” ungkapnya. “Tapi, kami akan melakukan pengecekan ulang, sebab banyak dokumen yang telah hilang. Selain itu, besok (hari ini ;red), saya akan ke Jakarta menjumpai mantan Menteri Kehutanan dan Perkebunan DR Ir Muslim Nasution yang menandatangani SK tersebut untuk menanyakan perihal yang memalukan ini, jelas Rektor.

Ia menambahkan, jika benar IAIN Ar Raniry terlibat dan terbukti menerima uang dari usaha HPH itu, kita (Biro Rektor IAIN ;red) akan meminta pertanggungjawaban oknum yang melibatkan lembaga ini.

Dalam hal pengelolaan HPH milik PT Aceh Inti Timber Co Ltd, lembaga advokasi lingkungan hidup WALHI Aceh menyayangkan keterlibatan lembaga pendidikan itu. “Jika terbukti IAIN Ar Raniry telah menerima dana tersebut hendaknya dapat dipublikasikan secara transparan nilainya dan penggunaanya,” ujar Bambang Antariksa, Direktur Eksekutif. Ia juga mempertanyakan, sudah hampir 10 tahun, mengapa informasi ini baru mencuat sekarang. “Sepertinya ‘ada udang di balik batu’ dengan mencuatnya kasus ini kepermukaan,” komentarnya.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan, yang ditandatangani Dr Ir Muslim Nasution, pada 12 Oktober 1999 ditunjuk PT Aceh Inti Timber Co Ltd. tertulis PT Aceh Inti Timber Co Ltd mengelola lebih kurang 80.804 hektar areal hutan yang terletak di Krueng Inoeng dan Krueng Teumarong, Kabupaten Aceh Barat, dalam jangka waktu 55 tahun (20 tahun ditambah daur tanaman pokok).

Isu hutan di Aceh tidak hanya menjadi bahan pembicaraan tingkat nasional. Level dunia pun turut memantau laju deforestasi hutan di tanah rencong ini, khususnya hutan Leuser. Lembaga donor dalam dan luar negeri turut andil mengucur dana dan ide untuk melestarikan hutan Aceh. Upaya ini pula yang di usung pemerintah serta kaum kapitalis dalam ‘membungkus’ hasil sumberdaya alam di Aceh.

Laporan KKN dalam hal evaluasi proposal monitoring

Monday, July 7th, 2008

Dear teman binaswadaya,
Kami mau melaporkan tentang kecurangan penilaian proposal monitoring khusus nya di desa paya Terbang kecamatan Samudra Kabupaten Aceh Utara.
proposal yang masuk ada 4 lalu di lakukan point penelilaian sehingga ada perangkingan. hasil perangkingan ini dikirim ke binaswadaya banda aceh.

Yang menjadi permasalahan adalah dalam penilaian dan pemberian point terhadap proposal yang tidak sportif. karena penilaian dan pemberian point ini disinyalir telah terjadi proses KKN.

Jadi kami menangkap ada indikasi nepotisme/curang evaluasi proposal program monitoring di desa paya terbang tersebut. Saudara Fuad dari BAPPEDA Aceh Utara telah mengumumkan hasil sebelum waktunya . Pemenangnya adalah lembaga punya Saydara Rusdi, SE di Desa Paya Terbang. Ternyata Saudara Fuad kawan dekat Saudara Rusdi. Salah satu tim penilai lainnya adalah Saudara Samsul (dosen dari Politeknik Lhokseumawe) yang juga kawan akrab Saudara Rusdi karena beliau juga Dosen dari Politeknik Lhokseumawe. Ke tiga orang ini ( Fuad, Rusdi dan Samsul berasal dari satu daerah yaitu dari Sigli Aceh Pidie).

Sebelum resmi diumumkan pemenangnya, kami minta pihak binaswadaya untuk mengevaluasi ulang secara objektif dan transfaran terhadap proposal monitoring desa paya terbang kecamatan samudra kabupaten aceh utara ini, sehingga tidak terjadi proses kkn dan saling menzalimi dalam rangka mencarai rezeki yang halal di bumi Allah SWT ini.
Mudah-mudahan reputasi Binaswadaya yang baik dimata masyarakat jangan tercemar gara-gara hal sepele ini. Amin

Salam kompak selalu dari lhokseumawe

Dari: kongkong ikong jher <bakdrien@***.com>

Dilema Perusahaan Media/Pers dan Nasib Insannya

Monday, July 7th, 2008


Saya selalu berfikir, apa tujuan utama dari perusahaan media/pers yang terlahir di Indonesia saat ini? Konon, dulu perusahaan media/pers didirikan oleh para jurnalis dengan tujuan utama menyampaikan informasi seluas-luasnya kepada publik. Berani menyampaikan kebenaran; independen; tanpa memihak; berjuang untuk kepentingan rakyat. Sungguh tujuan yang sangat mulia. Mencerdaskan masyarakat dari belenggu kebodohan/kebutaan informasi.

Sekarang, apakah tujuan itu masih yang utama?

Saya rasa TIDAK untuk pengusaha media/pers di Indonesia sekarang ini. Tujuan UTAMA telah menjadi nomor besar. Bahkan terlupakan.

Memang benar jika dikatakan saat ini banyak lahir perusahaan media/pers di Indonesia. Menurut catatan Dewan Pers, jumlah perusahaan yang lahir sekira 1800-an perusahaan (Data tahun 2007). Sungguh jumlah yang sangat signifikan bila dibandingkan perusahaan media/pers pada masa Orde Baru. Tapi sayang, tidak lebih dari 0,5 persen jumlah perusahaan ini yang benar-benar mempertahankan tujuan utama.

Sekarang, perusahaan media/pers lebih mengedepankan ajang BISNIS; meraup keuntungan materi; mengikuti naluri keserakahan manusia; mengusung kepentingan kelompok, bahkan rela “menjual diri” untuk kepentingan itu. Sementara, tujuan utama hanya menjadi slogan; topeng; bermuka dua. Perusahaan media/pers bergelimang kemewahan; parlente. Berlomba mengais iklan, advetorial dan segala macam bentuk pemasukan yang sah maupun tidak sah. Pesan-pesan “bertuah”, bahkan “membengkokkan” kebenaran informasi juga menjadi santapan utama para pelaku usaha media/pers dalam mencari keuntungan. Alasan yang pasti muncul; agar perusahaan tetap eksis.

Yang lebih unik, ada perusahaan media/pers tidak menggaji wartawan/korespondennya. Malah, wartawan/koresponden tersebut yang menyetorkan uang kepada perusahaannya. Alasannya, agar si wartawan tetap dapat mengantongi Kartu–KERAMAT–Pers. Sementara, setoran berita menjadi kebutuhan akhir.

Insan pers/wartawan, tetap menjadi “pengemis” data. Serba kekurangan. Bahkan menjadi “sapi perah”. Wajib memberi kontribusi pada perusahaan di tempatnya bekerja. Tidak dapat ditutupi lagi jika wartawan sering diembeli dengan kata “Bodrex”. Mengapa?

Permasalahan paling mendasar pada wartawan adalah KESEJAHTERAAN. Kesejahteraan insan pers (kuli tinta) di belahan Indonesia; MISKIN harta–mudah-mudahan tidak miskin akhlak–walaupun dari dulu juga miskin tapi tetap mempertahankan idealisme. Bukan berarti wartawan tidak bisa kaya. Hanya ada 2 hal yang mengakibatkan wartawan bisa kaya/sejahtera, yaitu:

  1. Usaha sampingan/ kerja paruh waktu yang halal.
  2. Menerima atau “memeras” dari narasumber atau kelompoknya dalam berbagai bentuk. (Bentuk pada umumnya adalah uang dan proyek).

Namun sayang, tidak banyak wartawan melakukan hal pertama. Justru asik bergelut dengan hal kedua. Bagi yang tetap mengedepankan idealisme, mencoba tetap berjuang mempertahankannya. Salahsatunya membentuk organisasi kewartawanan. Selain memperjuangkan idealisme, kesejahteraan para wartawan juga diutamakan agar dapat berkiprah untuk membangunkan kesadaran bersama dalam membangun bangsa ini secara benar. Pembinaan para wartawan dalam etika dan cara peliputan berita pun di programkan.

Lalu, siapa yang akan membina perusahaan media/pers yang lebih baik dan bermartabat? Agaknya butuh perhatian khusus bagi pemerintah ataupun lembaga yang di tunjuk nantinya.


Kilas Balik Nasib Wartawan
Ingin menciptakan wahana perjuangan bersama para wartawan, beberapa tokoh era 1908, 1928 maupun klimaksnya 1945 membentuk sebuah wadah perkumpulan wartawan. Dari perjuangan tersebut, lahirlah sebuah organisasi bernama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Pebruari 1946 di Solo. Perjuangan para aktivis wartawan/jurnalis sangat bermartabat; diwarnai aspirasi perjuangan para pejuang kemerdekaan. (http://id.wikipedia.org/wiki/PWI)

Waktu berlalu, celoteh sedikit bermunculan hingga muncul suara “miring” dari beberapa aktivis jurnalis muda. Faktor utama, PWI dianggap lebih menjadi alat kepentingan pemerintah Soeharto dan tidak betul-betul memperjuangkan kepentingan jurnalis. (http://id.wikipedia.org/wiki/Aliansi_Jurnalis_Independen)

Kasak-kusuk aktivis muda mulai terlihat. Apalagi saat terjadinya pembredelan tiga media –DeTik, Tempo, Editor pada 21 Juni 1994. Mereka menuduh PWI turut bersekongkol dengan pemerintah Orde Baru. Lobi sana-sini makin gencar. Adrenalin para pejuang jurnalis muda makin memuncak dengan berbagai aksinya hingga pada 21 Juni 1994 lahirlah Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Bogor. Mereka enggan munggunakan nama “Persatuan” karena alergi terhadap PWI. Pengurus dan anggota pun didominasi oleh jurnalis muda.

Waktu masih terus berjalan. Menampakkan fenomena-fenomenanya. Ternyata, Barisan Sakit Hati (BSH) pada organisasi kewartawanan pun kembali bermunculan. Pembredelan terhadap kepengurusan organisasi juga mulai dilakukan. Beberapa pengurus PWI Pusat terpaksa “bercerai”. Mereka ingin membentuk organisasi baru. Sementara, solusi untuk bergabung dengan AJI diabaikan. Ada rumor beredar, AJI di tuduh sudah mulai “terinfeksi” kelakuan Orde Baru.

Karena “sakit hati”, nama PWI-Reformasi ditancapkan pada tahun 1998. BSH dikumpulkan untuk melakukan perjuangan. Aktifis jurnalis gaek dan muda membahu menghembuskan isu. Lagi-lagi mengusung misi secara garis besar sama. Hingga pada tahun 2000 dilakukan kongres pertama untuk membentuk kepengurusan nasional.

Kemelut kecil masih terjadi. Pendiri dan pengurus organisasi tersebut melaksanakan Kongres Luar Biasa (KLB) pada tahun 2005. Salah satu hal pokok, mereka ogah organisasinya masih melekat nama PWI. Hasilnya, PWI-Reformasi berubah nama menjadi Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI).

Apakah lahirnya nama baru, kemelut organisasi ini mulai reda? Sepertinya tidak demikian. Masih ada celoteh-celoteh “garing” bermunculan. “Sikut” sana-sini mulai dimainkan. Ada apa? Apakah misi yang di usung belum sepenuhnya dijalankan, atau sudah “terinfeksi”-kah PJI seperti organisasi lainnya? Entah bagaimana tingkat penyelesaiannya saat ini.

Sedikit Solusi (Bukan Provokasi)
Sekarang ini masih banyak wartawan belum terlibat atau ikut dalam sebuah organisasi wartawan/jurnalis. Sebagian besar beralasan minimnya sosialisasi penggalangan anggota dan enggan berorganisasi. Hal lain, memandang organisasi hanya sebagai wadah formalitas untuk menunjukkan bahwa ia sebagai seorang wartawan.

Keadaan ini dapat dimaklumi. Jelas “Virus” ini datangnya berawal dari perusahaan media/pers diamana tempat ia bekerja. Sangat banyak perusahaan media/pers kurang selektif terhadap penerimaan wartawan/koresponden hingga menghasilkan para wartawan yang kurang profesional. Begitu pula tingkat pengawasan wartawannya di lapangan. Ada pula perusahaan media/pers menganggap keberadaan wartawan dalam usahanya hanya sebagai sarat, namun kurang melihat berita yang dikemasnya. Apalagi bagi perusahaan media/pers yang mengedepankan target “bisnis” haramnya. Jelas wartawan yang dilahirkannya bagaikan algojo yang siap memenggal leher narasumbernya.

Seyogyanya, pemerintah harus tegas dalam menertibkan setiap perusahaan media/pers di Indonesia secara profesional. Apalagi saat ini bermunculan perusahaan media tak terdaftar alias tanpa izin penerbitan. Dewan Pers juga sepertinya harus diberikan wewenang untuk mengawasi dan bila perlu dapat mengambil tindakan terhadap perusahaan media/pers yang menyimpang dari aturan.

Kemudian, pemerintah atau Dewan Pers, atau pula melalui organisasi kewartawanan yang dianggap pantas untuk dapat dilibatkan dalam penilaian calon wartawan pada perusahaan tersebut.

Dalam hal ini, saya juga sangat mengharapkan solusi-solusi lain yang dapat dicapai agar tujuan Utama dari keberadaan perusahaan media/pers dan jurnalis dapat tercapai. Ada sebuah pesan seorang bijak, “Sebelum mencari kesalahan, temukan dahulu persamaan. Setelah itu, selesaikan perbedaan dengan tidak melibatkan amarah. Karena perbedaan selalu tidak terselesaikan akibat lebih mengutamakan kemarahan. Dan jangan pernah berfikir tentang mana terlebih dahulu tercipta, ayam atau telurnya. Karena itu juga belum ada kepastiannya.”

Penulis adalah seorang wartawan yang masih “hijau” dalam lika-liku kehidupan jurnalis. Mudah-mudahan dapat berkenan di hati para pembaca dan dapat memberikan saran dan kritikan untuk kemajuan kita bersama.

Laporan KKN dalam hal evaluasi proposal monitoring di desa paya terbang kecamatan samudra kabupaten aceh utara

Tuesday, June 24th, 2008

Dear teman binaswadaya

Kami mau melaporka tentang kecurangan penilaian proposal monitoring khusus nya di desa paya Terbang kecamatan Samudra Kabupaten Aceh Utara.
proposal yang masuk ada 4 lalu di lakukan point peneliaia sehingga ada perangkingan. hasil perangkingan ini dikirim ke binaswadaya banda aceh.

yang menjadi permasalahan adalah dalam penilaian dan pemberian point terhadap proposal yang tidak sportif. karena penilaian dan pemberian point ini disinyalir telah terjadi proses kkn.
Jadi kami menangkap ada indikasi nepotisme/curang evaluasi proposal program monitoring di desa paya terbang tersebut. Saudara Fuad dari BAPPEDA Aceh Utara telah mengumumkan hasil sebelum waktunya . Pemenangnya adalah lembaga punya Saydara Rusdi, SE di Desa Paya Terbang. Ternyata Saudara Fuad kawan dekat Saudara Rusdi. Salah satu tim penilai lainnya adalah Saudara Samsul (dosen dari Politeknik Lhokseumawe) yang juga kawan akrab Saudara Rusdi karena beliau juga Dosen dari Politeknik Lhokseumawe. Ke tiga orang ini ( Fuad, Rusdi dan Samsul berasal dari satu daerah yaitu dari Sigli Aceh Pidie).

Sebelum resmi diumumkan pemenangnya, kami minta pihak binaswadaya untuk mengevaluasi ulang secara objektif dan transfaran terhadap proposal monitoring desa paya terbang kecamatan samudra kabupaten aceh utara ini, sehingga tidak terjadi proses kkn dan saling menzalimi dalam rangka mencarai rezeki yang halal di bumi Allah SWT ini.
Mudah-mudahan reputasi Binaswadaya yang baik dimata masyarakat jangan tercemar gara-gara hal sepele ini. Amin

Salam kompak selalu dari lhokseumawe (umar ali – KROI)

Menhub Resmikan Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya

Sunday, June 8th, 2008

NAGAN RAYA, NAD – Menteri Perhubungan RI, Ir Jusman Syafii Djamal didampingi Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, hari ini, Sabtu (7/6) dijadwalkan meresmikan perubahan nama Bandar Udara (Bandara) Cut Nyak Dhien Meulaboh menjadi Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya di Desa Kubang Gajah, Kecamatan Kuala Pesisir.

Kabag Humas Setdakab Nagan Raya, Asda Kesuma kepada Serambi, Jumat (6/6) menginformasikan, penggantian nama Bandara Cut Nyak Dhien Meulaboh menjadi Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya sesuai dengan keputusan Departemen Perhubungan RI.

Setelah prosesi peresmian penggantian nama bandara tersebut, Menhub bersama rombongan juga akan menyaksikan peresmian PLTU Kuta Makmue di Kecamatan Kuala. Selain didampingi Gubernur Irwandi dan Wagub Muhammad Nazar, juga disertai sejumlah Dirjen Dephub, pejabat Provinsi NAD, pejabat Nagan Raya, dan undangan dari sejumlah kabupaten/kota lainnya di Aceh.

Bahkan, hadir pula Meneg BUMN dan Menteri Pertambangan dan Energi.

Masih menurut Asda Kesuma, setelah kegiatan peresmian perubahan nama bandara, tim menteri beserta Gubernur Irwandi Yusuf dijadwalkan akan berkunjung ke PLTU Kuta Makmue di Kecamatan Kuala mengikuti prosesi peresmian pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar batu bara tersebut. Namun hingga kemarin sore belum diketahui secara pasti siapa yang akan meresmikan PLTU Kuta Makmue karena jadwalnya masih dibahas. Rombongan pejabat pusat dan daerah juga akan melakukan serangkaian kegiatan lainnya selama di Kabupaten Nagan Raya.(di – Serambi Indonesia)

Korban longsor di Tapaktuan mulai sakit

Sunday, June 8th, 2008
TAPAKTUAN – Hujan deras yang mengguyur kawasan Gunung Paya Ateuk, Pasie Raja, Aceh Selatan, pada Kamis (5/6) siang hingga malam menyebabkan longsor susulan dari puncak gunung itu terus terjadi. Sementara itu, kondisi kesehatan para pengungsi mulai terganggu. Umumnya terjangkit diare, gatal-gatal, ISPA, dan alergi.
Sekdes Paya Ateuk, Diwan kepada Serambi, Jumat kemarin melaporkan, longsor susulan yang terjadi makin membuat warga cemas dan trauma. Apalagi akibat longsor Kamis siang, Laili (70), meninggal karena shock mendengar suara gemuruh batu dan pepohonan yang luruh dari puncak Gunung Paya Ateuk. Gunung itu berjarak sekitar 1,5 kilometer (km) dari permukiman penduduk.

Akibat longsor gunung yang sudah berlangsung sepekan itu, suasana sedih makin menyelimuti para korban. Mereka tak tahu kapan bisa kembali ke rumah dan sampai kapan harus bertahan di tenda-tenda pengungsian.

Sementara itu, batu-batu besar, pepohonan, dan lumpur masih saja berjatuhan dari puncak gunung setinggi 800 meter itu. Saking seringnya puncak gunung itu longsor, warga setempat mulai menjulukinya sebagai Gunung Reuloh (rusak).

Amatan Serambi di lokasi kemarin, longsor susulan yang terjadi Kamis sore menyebabkan cakupan wilayah yang tertimbun tanah dan lumpur kian meluas. Demikian pula jumlah rumah yang tergenang lumpur.

Sekdes Paya Ateuk, Diwan, melaporkan, peristiwa itu juga mengakibatkan kondisi kesehatan masyarakat pengsungsi mulai terganggu. Seperti dilaporkan petugas kesehatan yang berposko di Gedung Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) setempat, para pengungsi sudah mulai diserang bermacam penyakit. Seperti diare, gatal-gatal, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), hipotensi, dan alergi.

Asnidar Amd, petugas kesehatan yang berposko di pengungsian, mengatakan pengungsi yang terserang diare berjumlah 15 orang, demam 18, ISPA 20, hipotensi 11, serta puluhan orang lainnya gatal-gatal.

Selain itu, personel TNI berjumlah satu peleton yang dipimpin Danyonif 115/ML, Letkol Inf Triyono, juga melakukan pengobatan massal terhadap para korban longsor.

Terlihat pula warga yang dibantu satu peleton TNI Batalion 115/Macan Leuser mulai membersihkan saluran di tenda-tenda pengungsian maupun di rumah-rumah warga dari endapan lumpur setebal 0,5-1 meter dari permukaan rumah.

Sementara itu, Camat Pasie Raja Rasmidin Maudy di lokasi kejadian mengaku sangat prihatin melihat kondisi masyarakat yang sudah sepekan mendiami tenda-tenda pengungsian akibat rumahnya direndam tanah longsor.

Menurutnya, longsor yang telah menimbun 14 hektare (ha) lahan persawahan, ½ ha pemakan umum, 10 ha kebun kelapa/pala, 2,5 km saluran irigasi, merendam 63 unit rumah, serta menghancurkan rumah milik Jamal (38) merusak rumah milik Juhan (55) dan Dairah (70) itu diperkirakan akan terus terjadi sehubungan awan tebal masih bergantung di kawasan itu.

Melihat longsoran gunung yang makin hari makin parah itu membuat warga kian trauma dan belum berani kembali ke rumahnya, karena dikhawatirkan sewaktu-waktu akan terjadi lagi longsor susulan.

Untuk itu, ia mengharapkan kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten agar segera merelokasin masyarakat Dusun Keudai Pantai ke tempat lain yang dianggap lebih aman dari bencana alam.

Hal senada disampaikan Dandim 0107 Aceh Selatan, Letkol Arh Erwin Septiansyah dan Juru Bicara Kaukus Pantai Barat Selatan (KPBS) TAF Haikal yang mengaku sangat prihatin terhadap bencana yang menimpa 450 jiwa penduduk Dusun Keudai Pantai, Desa Paya Ateuk.

Nek Laili dimakamkan

Suasana haru biru terasa di Desa Paya Ateuk yang berjarak sekitar 25 km dari arah barat Tapaktuan, ibu kota Aceh Selatan ketika jenazah Laili (70) dimakamkan di pemakaman umum desa setempat, pagi kemarin.

Ibu tujuh orang anak dan belasan cucu itu meninggal, Kamis (5/6) sore setelah jatuh pingsan terkejut ketika mendengar suara gemuruh batu-batu dan pepohonan yang jatuh dari puncak gunung Paya Ateuk menyusul longsor susulan yang diawali guyuran hujan deras yang terjadi sejak siang.

Bantuan mengalir

Camat Pasie Raja juga melaporkan, bantuan masa panik untuk korban bencana masih terus mengalir dari pemkab setempat yang diserahkan Bupati Tgk Husin Yusuf didampingi Wabup Daska Aziz, Ketua DPRK H Abdul Salam, para kepala dinas, badan, dan kantor di lingkungan pemkab setempat.

Bantuan berupa beras, lauk pauk, mie instan, air mineral, dan makanan siap saji, bantuan juga mengalir dari lembaga organisasi kemasyarakatan YAPALA dan YGHL serta para donator lainnya.

Di hadapan para warga korban longsor, Bupati Aceh Selatan yang baru dilantik sekitar tiga bulan lalu itu meminta warga meningkatkan kewaspadaan. Selain itu pihaknya telah mengerahkan dua alat berat ke lokasi bencana.

Untuk membantu korban longsor di kawasan Gunung Paya Ateuk, Pasie Raja, Aceh Selatan, Dinas Sosial (Dinsos) Aceh, Jumat (6/6) siang telah mengirim barang bantuan dengan satu unit mobil khusus (dump luv) yang dilengkapi dapur umum.

Menurut Juru Bicara Dinsos Aceh, Drs Burhanuddin kepada Serambi, barang-barang yang dikirim ke Aceh Selatan, masing-masing kain sarung 100 potong, selimut 150 potong, daster 100 potong, baju kaos 200 buah, panci masak 100 unit, piring sembilan lusin, gelas 12 lusin, tikar 20 lembar, peti dumlap satu unit, family kits (peralatan rumah tangga) 30 buah, foodware (peralatan makan) 10 buat dan kain batik 200 lembar.

Sedangkan kebutuhan lain, seperti beras, mi instan, dan lauk pauk tidak dikirim dari Banda Aceh. Karena semua kebutuhan di luar yang dikirim dari Dinsos Aceh sudah tiba di Kantor Dinsos Aceh Selatan. “Dinsos Aceh hanya mengirim bantuan ke Aceh Selatan sesuai permintaan dari sana. Kalau beras dan lain-lain ada di Dinsos Aceh Selatan, jadi tidak perlu didrop dari Banda Aceh,” kata Burhanuddin.

Bila dibutuhkan untuk buka dapur umum langsung di lokasi dengan menggunakan mobil dump luv, kata Burhan, tidak ada masalah. Selain lima staf Dinsos Aceh yang telah dikirim ke sana, ratusan tenaga taruna siaga bencana dinsos siap bekerja siang malam. Kini, pihaknya hanya menunggu permintaan dari dinas sosial setempat. (az/hel – Serambi Indonesia)

GSM 3 sudah masuk Aceh

Monday, May 26th, 2008

Banda Aceh – Sudah hampir satu minggu menggunakan jaringan operator baru di aceh, rasanya cukup puas dengan kualitas signal dan harga yang ditawarkan, tidak main-main langsung 2 buah kartu pedana GSM 3 saya boyong untuk mencoba menikmati kualitas dan fitur-fitur yang ada.

Sudah dalam beberapa hari ini saya mencoba keliling kotamadya Banda Aceh untuk mencoba kualitas jangkauan signal, hasilnya lumayan bagus untuk operator yang baru seumur jagung di Banda Aceh.

Dari pusat kota Banda Aceh perjalan saya mulai, hinggal sampai Darussalam, kualitas signal sangat bagus meskipun ada sedikit dengung atau suara gemuruh, namun tidak sampai sambungan telepon terputus. Mencoba untuk menelusuri lebih jauh, dari jembatan Lamnyong saya meluncur ke Ulee Kareng, ternyata disana signal nya malah lebih bagus.

Kesimpulan sementara, signal GSM 3 diAceh, khususnya di Kotamadya Banda Aceh, untuk saat ini kualitasnya sangat bagus. (afz – KRO)

RUMAH BANTUAN KE-1000 UNTUK ACEH DAN SRILANKA DIRESMIKAN DI SIMEULUE

Saturday, May 17th, 2008

Simeulue – Munawar (24 tahun) warga desa Luan Balu, Kecamatan Teluk Dalam Simeulue, menjadi penerima rumah bantuan ke-1000. Bersama istri dan anaknya yang berumur dua tahun, Munawar menerima plakat dari Mr.Henk Van Heuven, Director AEDES. Rumah bantuan ini merupakan rumah ke-1000 hasil penggalangan dana dari Dutch Housing Association (AEDES) dan Stichting Garantiefonds Habitat International (SGHI) di Belanda dan disalurkan melalui United Nations Development Programme (UNDP) dan United Nations Human Settlements Program (UN-HABITAT).

Acara serah terima ini diadakan di desa Luan Balu pada hari Kamis, 15 Mei 2008. Sekitar 300 orang warga desa Luan Balu beserta aparat desa dan tokoh masyarakat ikut menyambut kedatangan delegasi dari Belanda. Masyarakat Luan Balu menyuguhkan kesenian daerah, serta acara syukuran ini dimeriahkan oleh hiburan kesenian dan permainan anak-anak.

AEDES dan SGHI membangun 1000 unit rumah di Sri Lanka dan Indonesia, dimana sebanyak 650 unit dibangun di Simeulue. “Sejak awal 2005, AEDES/SGHI sudah ke Aceh untuk melihat kemungkinan memberikan bantuan kepada masyarakat. Kami tertarik untuk membangun di Simeulue karena pada saat itu sudah banyak organisasi dan bantuan yang berada di Banda Aceh, sementara masih sangat sedikit yang bekerja di Simeulue” kata Jan de Vletter, Direktur SGHI. Bersama de Vletter, hadir pula Henk van Heuven, Director AEDES, Rob Ravestein, Senior Manager Advisor AEDES, Peter van Buuren, Representative AEDES/SGHI.

Selain bantuan rumah, bantuan lain yang diberikan adalah fasilitas balai pertemuan masyarakat di empat desa, fasilitas MCK umum untuk masyarakat. Selain itu, AEDES/SGHI bekerjasama dengan Jaringan Kemanusiaan Masyarakat Adat (JKMA) Simeulue untuk memberikan dana pemeliharaan rumah. Hal ini dilakukan melalui program peningkatan kesadaran pemeliharaan rumah, serta juga jika terjadi kerusakan minor di rumah-rumah yang telah dibangun.

UNDP/UN-HABITAT bersama masyarakat Simeulue bersama-sama membangun kembali rumah-rumah yang rusak di empat desa (Sambay, Kuala Makmur, Ganting dan Luan Balu). Masyarakat terlibat sejak awal dalam membangun kembali rumah dan permukiman mereka. Di Simeulue saat ini, pengerjaan 459 unit rumah baru dimulai dan diharapkan akan selesai pada akhir tahun 2008 ini. Sejak tahun 2005, UN-HABITAT telah menyelesaikan sebanyak 4,000 unit rumah.

Musim Razia Kendaraan Bermotor di Banda Aceh

Thursday, May 15th, 2008

Banda Aceh – Kemarin (14/05/2008) pada saat jam istirahat siang, saya pulang kerumah. Rumah saya yang tidak jauh dari kantor akan membuat saya dapat santai sambil jalan dan terkadang saya juga lupa membekali surat-surat kendaraan bermotor.

Belum jauh saya berjalan, sampailah saya di Simpang Tiga Lamteumen, baru saja saya mengarahkan laju kendaraan ke arah Jl. Cut Meutia, langsung di hadang oleh sekelompok polisi lalu lintas yang sedang melakukan Razia.

Eits… spotan saya berhenti dan menepi. Mulailah pemeriksaan terjadi. Semua surat-surat kendaraan sebenarnya sudah lengkap. Namun kemudian Pak Polisi tersebut menanyakan kepada saya “Surat lapor nya ada Pak?”.

Sambil senyum saya bilang, “Tidak ada Pak”. Sambil pasang muka senang, petugas tersebut mengajak saya menuju “Meja Tilang”, Namun saya sengajak melihat gerak-gerik petugas tersebut sebelum sampai meja tilang, entah disengaja atau tidak, petugas tersebut berjalan melalui pinggiran jalan yang terhalang pohon besar. Saya yang sudah terbiasa dengan gerak gerik petugas semacam itu, tidak memperdulikan dia melewati jalan manapun dan saya tetap berjalan melalui bahu jalan yang mudah terlihat oleh orang lain. Yang mengherankan saya adalah, setelah saya sampai di Meja Tilang, malah petugas tersebut belum tiba di meja, dan SIM/STNK saya yang diambil belum juga sampai di meja tilang. Saya menoleh kebelakang, dan melihat petugas tersebut pasang muka “manis” (sambil tersenyum) kearah saya. Hehehehe… (saya tersenyum dalam hati, sambil berbisik lirih… tungguin aja saya disitu ampe berlendir). Kemudian saya tanyakan ke petugas yang mencatat di Meja Tilang “Pak, saya tadi katanya mau ditilang, tapi mana STNK/SIM saya? dan mana surat tilang yang harus saya tanda tangan?”, Petugas di meja itu kaget “Maaf pak, belum ada di meja saya, memangnya siapa yang ambil dokumen kendaraan bapak?”, sambil “tersenyum” saya memalingkan muka ke arah petugas yang berdiri dibalik pohon dan berlagak pura-pura jalan kearah meja.

Singkat cerita sampailah petugas yang membawa SIM/STNK saya ke Meja Tilang. Kemudian petugas di meja tilang menanyakan kepada saya, “Bagaimana pak, apa saya tilang?”. “Ya” jawab saya, kemudian petugas tersebut segera mengeluarkan form tilang dan mulai mengisinya, namum sebelum tinta ballpoint nya mengenai form tersebut, saya berkata “Pak, saya ambil form warna BIRU saja”.

Namun tahukan apa yang terjadi? Petugas pencatat di meja tilang tersebut tidak memperdulikan saya, dia langsung tulis saja di Form warna merah yang sudah dipersiapkan. Saya kembali menegaskan “Pak, silahkan tilang dokumen kendaraan saya, tapi saya mau Form yang warna Biru”. Dengan acuh dia tidak memperdulikan kata-kata saya. Baiklah kalau begitu, sekarang saya sudah diam saja dan mengambil surat tilang warna Merah, dan disana dituliskan harus mengikuti pengadilan pada tanggal Rabu, 28/05/2008.

Petugas yang tilang (yang pura-pura sembunyi dibalik pohon, dan petugas dimeja tilang itu masih sangat saya ingat nama, pangkat dan kesatuannya). Mungkin suatu hari saya akan butuh info ini lagi.

Dalam surat tilang warna merah yang saya terima dituliskan Melanggar Pasal : 182 LL PD 44 (dengan tulisan tidak jelas ala Resep Dokter). 15 menit yang lalu saya coba konfirmasikan mengenai Pasal tersebut ke Salah seoarang teman di Kepolisian, dan informasi yang saya dapatkan lumayan menarik, Berikut hasil percakapan singkat kami:

Teman: pelanggaran apa?
Penulis: katanya aku kena pasal 182 LL
Penulis: aku ga ada surat lapor
Penulis: mobilku plat nya BK (sdangkan aceh BL)
Penulis: katanya kalo plat luar jalan di aceh, harus ada surat lapor dari poltabes setempat
Teman: ngarang itu
Teman: di jakarta aja segudang mobil dari mana mana
Teman: tapi ga ada masalah
Teman: sim itu khan berlaku dimana pun berada
Teman: ya maaf deh
Teman: polisinya mungkin mau nyari duit
Teman: jadi ngarang2 gt
Teman: lebih baik kalo gt harus di tanyakan surat tugasnya
Teman: jangan2 dia polisi gadungan
Teman: atau polisi nakal
Teman: bisa di laporklan kok ke atasannya
Teman: emg nya pasal 182 LL itu bunyinya seperti apa sih pak?
Teman: kalo ga salah pasal gregetan

Sekedar sharing kepada para pembaca yang budiman mengenai arti dari Form tilang warna Merah dan Biru.

Form Merah
Berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan dan mau membela diri secara hukum. Kalau kita dapat Slip Merah, berarti kita akan disidang. Dan SIM kita harus kita ambil di pengadilan setempat.
Form Biru
Mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. kita tinggal transfer dana ke nomer rekening tertentu (di Banda Aceh bayarnya ke BRI). Kemudian bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM
di Kantor Polisi yang menilang.

Dan denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya itu tidak melebihi Rp. 50.000,- dan dananya Resmi, masuk ke Kas Negara.

Jadi, kalau ada Polantas yang sampe minta undertable Rp. 75.000,- atau Rp. 100.000,-, itu namanya BULLSHIT!!!

Informasi lain yang saya dapat dari teman-teman di kantor POLTABES Banda Aceh menyebutkan bahwa, dalam beberapa hari kedepan Polisi memang akan sering melakukan Razia. Jadi buat para pembaca yang kebetulan berencana berpergian sangat disarankan untuk membekali kendaraan pembaca dengan dokumen-dokumen kepemilikan kendaraan. (afz – KoranRakyat)