KoranRakyat.net | Opini
Makanan khas rakyat Indonesia salah satunya adalah tempe, yang berasal dari bahan baku kedelai. Lauk pauk ini bahkan menjadi santapan berbagai kalangan, dari kaum pinggiran sampai pejabat pemerintahan, dari yang muda hingga yang tua, semua tanpa terkecuali. Bahkan, Di Surabaya sendiri ternyata ada namanya kampung tempe, kampung tersebut berada tepatnya di Jl Petemon Barat, kecamatan Sawahan, masuk kedalam sebuah gang kecil berukuran lebar 4 meter, disisi kanan dan kiri rumah petak kecil, sepanjang gang inilah kampung tempe berada. Julukan itu diberikan untuk kampung yang seluruh penduduknya pembuat sekaligus juga penjual tempe.
Namanya pak Supri (40) salah satu dari pembuat dan penjual tempe, ia pun tidak sendiri berjuang demi keluarganya untuk memenuhi kebutuhan hidup, ada kurang lebih 15 orang pembuat tempe sekaligus penjual tempe di gang ini. Pada kesempatan siang itu ketika menemui pak Supri di rumah kontrakannya, ia menjelasakan, pada tahun 1940-an kampung ini sudah menjadi kampung yang memang seluruhnya adalah pembuat dan penjual tempe. Sedangkan yang menjadi sesepuh di kampung tempe ini adalah pak Sareh (80), dalam sehari ia membeli 18kg kedelai untuk diproses menjadi tempe. Pak Supri menambahkan, untuk sehari – hari pak Sareh yang menjadi sesepuh kampung tempe itu berjualan menggunakan sepeda Jengki berangkat pukul 03:00 pagi, ada juga pak Suprayin (50) yang berasal dari Jombang, rumahnya tepat berhadapan dengan pak Supri, sedangkan untuk berjualan sehari – hari di daerah Simo dekat jalan tol, lalu bu Asih (55) berasal dari lamongan yang berjualan tempe di petemon gang kuburan, serta beberapa warga kampung tempe lainnya di Petemon barat ini. ”Memang sejarah kampung ini dulunya semua pembuat dan penjual tempe mas, waktu dulu itu orang – orang jualan sampai ada yang naik kereta kuda didalamnya berisi tempe semua sambil berjualan keliling kota Surabaya ini, ” kata pak Supri sambil memberikan segelas air mineral dalam kemasan plastik.
Rumah kontrakan yang sudah ditempati selama 6 tahun itu terlihat amat sederhana, disitulah pak supri, istrinya bu Uriyani (36,) serta anaknya yang duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar ini tinggal. Pak Supri menjelaskan kembali, sejak tahun 1989 silam ia memulai usaha membuat dan menjual tempe, awal mulanya ikut membantu kakak lalu memutuskan untuk mandiri. “Sudah 19 tahun lamanya mas, membuat dan berjualan tempe, sampai sekarang ya tidak bisa apa – apa, tidak bisa beli rumah sendiri, rumah ini saja masih mengontrak, setiap tahun ya harus bayar 1,5 juta rupiah,” ujarnya sambil tersenyum kecil lalu mempersilahkan minum.
Pak Supri mengatakan, proses untuk membuat tempe sendiri tak ubahnya proses rumit dan lama. Tempe yang dibeli setiap hari di koperasi untuk 1kg-nya Rp 6600 rupiah, saat ini tempe mendapat potongan harga atau subsidi dari pemerintah sebesar Rp 1000 rupiah menjadi Rp 5500 rupiah untuk 1kg kedelai. Sedangkan dalam sehari ia membeli 10kg kedelai, jumlah keseluruhan uang yang harus dikeluarkan Rp 55.000 rupiah.
Dengan mengenakan pakaian yang sederhana kaos oblong polos warna biru, pak supri menjelaskan siang itu, untuk proses membuat tempe yang pertama kedelai dicuci bersih dengan air matang, setelah itu kedelai direbus, dalam proses ini kedelai dimasak setengah matang. Sementara itu, ia pun mempersilahkan untuk melihat dapur yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidur tersekat dinding, disitulah terdapat tong berukuran besar tempat untuk memasak kedelai, bukan menggunakan kompor minyak tanah atau gas elpiji, melainkan dengan kayu bakar, kondisinya sedikit kumuh dan kotor, ini dikarenakan memang usia alat – alatnya terlampau tua serta akibat dari proses pembakaran, begitu juga kampung tempe yang menjadi sejarah ini.
Selanjutnya, dari dapur kami kembali ke ruang tamu yang memang tanpa ada kursi jadi duduk di ubin tegel, tak terasa waktu pun berjalan bersamaan gema adzan ashar berkumandang, lalu pak Supri meminta ijin untuk menunaikan shalat. Setelah itu ia pun kembali untuk menjelaskan, dari kedelai yang setengah matang tadi kemudian didinginkan, perhitungan waktunya kurang lebih 30 menit. Proses demi proses untuk membuat tempe memang perlu diperhitungkan, jika tidak akan sia – sia dan urung menjadi sebuah tempe yang layak untuk diperjualkan. Lalu pak Supri mengatakan, setelah dingin kedelai harus dibawa keluar untuk digiling, dalam proses menggiling ini kedelai dibawa ke tempat tak jauh jaraknya kira – kira 5 rumah dari tempat pak Supri tinggal. “Tempat penggilingan itu memang digunakan sudah sejak lama, saya dan pak suprayin (50) yang menggiling disitu, gilingan itu milik kakak saya, kalau menggiling ya tidak bayar, cuman mengganti biaya listrik sebesar Rp 1000 rupiah satu hari, jadi bayarnya ya bulanan Rp 30.000, kalau beli sendiri uangnya siapa mas, kan harganya mahal, sedangkan pak Sareh (80) sudah punya penggilingan sendiri di rumahnya,” katanya.
Uriyani (36), istri pak Supri pun datang, lalu mempersilahkan memakan jajanan kecil, ia meminta maaf karena kondisi rumahnya yang sangat sederhana itu. Pak supri mengatakan, setelah proses penggilingan kedelai harus direndam dengan air kemudian diberi ragi, dalam proses ini memakan waktu yang cukup lama sekitar 10 jam. “Ini adalah proses yang rumit dan lama mas, semisal kalau sudah digiling direndam dengan air ragi lalu didiamkan pukul 16:00 sore, maka selesainya pukul 02:00 pagi, jam segitu saya dan pembuat tempe di kampung ini sudah bangun untuk mempersiapkan segala sesuatunya,” kata pak Supri sambil menunjukkan tempe setengah jadi di dapurnya.
Pria yang berperawakan kecil lahir tahun 1968 dan sudah berjuang untuk hidup dari membuat dan menjual tempe selama 19 tahun ini mengatakan, setelah didiamkan selama 10 jam, tempe yang setengah jadi itu di angin – anginkan dengan kipas angin atau di tempatkan diluar rumah, waktu yang diperlukan kurang lebih selama 30 menit atau 1 jam, setelah itu tempe tentunya belum siap untuk dijual harus menunggu besok. Tempe yang sudah siap jual dipotong panjang, dan dikemas dengan plastik agar bersih dan tampak rapi. Pukul 05:30 pagi, usai shalat shubuh, ia berangkat untuk menjual tempe. “Saya berjualan setelah shalat shubuh, yang lainnya, orang – orang disini sudah berangkat pukul 03:00 pagi, saya yang paling siang berangkatnya, kalau berjualan tempe di daerah kali sosok, lewat Jembatan Merah Plasa, di pasar Pesapen, waktu tahun 1995 saya jualan menggunakan sepeda jengki, kira – kira ya 3 tahun naik sepeda jengki, sekarang sudah naik sepeda motor” ungkapnya sambil menunjukkan sepeda motornya di ruang tamu itu.
Sementara itu, pria yang membuat dan menjual tempe, juga menjadi guru ngaji TPA Libsuttaqwa, didaerah petemon barat, di SD Nurul Huda ini mengatakan, tempe yang dijual harganya bervariasi, sesuai dengan potongan tempe, ada yang beli Rp 1000 rupiah, ada juga Rp 2000 rupiah, hasil yang diperoleh dalam penjualan tempe dapat mencapai Rp 100 ribu rupiah sehari, ini merupakan hasil kotor penjualan. “Uang itu ya tidak cukup mas kalau dihitung – hitung untuk kebutuhan sehari – hari, soalnya belum dipotong untuk ini dan itu, tidak mesti mas untuk pendapatan sehari, tapi saya bersyukur tidak seperti bulan januari lalu, kedelai memang sempat mahal harganya hingga menembus Rp 7500 rupiah/kg, wah susah pokoknya kalau harga kedelai naik,” kata pak Supri sambil tersenyum kembali.*
Oleh: Okky Firmansyah Suryatama (okky_fs[at]yahoo.com)















