Denpasar | KoranRakyat.net
Ratusan siswa-siswi beserta guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Miftah yang berada di Jalan Kartini No 26, Denpasar, harus diungsikan ke masjid. Pasalnya, kepala sekolah dan seorang guru mendapat ancaman teror via SMS yang isinya akan meledakkan sekolahan tersebut. Tak ayal, selain membuat panik ratusan murid, ancaman itu juga membuat para wali murid berdatangan dan lebih memilih membawa anaknya pulang lebih awal.
Ancaman tersebut pertama ditujukan kepada kepala sekolah MI Al-Miftah yakni Fadoli pada malam harinya. Dalam ancaman itu pelaku mengatakan akan meledakkan sekolah pada hari Jum’at (31/7) pagi sekitar pukul 10.00 Wita. Nah anehnya diakhir ancaman itu tertulis kata Noor Din. Bukan hanya itu saja, salah seorang guru sekolah yakni Nurhasanah, juga mendapat ancaman serupa pada pagi harinya. Mengetahui ancaman itu, petugas Gegana Brimob Polda Bali sekitar pukul 09.00 Wita pada Jumat itu langsung menyisir sekolah yang berlantai tiga tersebut. Nah saat dilakukan penyisiran itu, sekitar 420 murid beserta belasan guru harus diungsikan ke masjid yang berada sebelah utara sekitar 50 meter. Hal itu dilakuakan untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan. Untungnya tidak ditemukan benda yang membahayakan ataupun yang ,mencurigakan lainnya. Sementara itu ditemui di tempat kejadian Haji Muhammad Homsun, yang juga ketua yayasan Al Miftah mengatakan, setelah dilakuakan perundingan dengan pihak sekolah, pihaknya kemudian mengungsikan ratusan murid itu ke masjid. ”Untuk jaga-jaga saja,” jelasnya Jum’at pagi kemarin. Nah SMS yang bunyinya akan meledakkan sekolahan sekitar pukul 10.00 Wita itu, berasal dari dua nomor yang berbeda. ”Isinya, intinya sama-sama mengancam akan meledakkan sekolah,” paparnya. Nah saat para murid dibawa ke masjid itu, pihaknya berinisiatif kalau di masjid tersebut akan diberikan pelajaran tambahan, dengan demikian para siswa tidak panik. Namun sayang, rupanya kabar kalau sekolah mendapat teror bom tersebut sudah menyebar kepada para murid bahkan sampai ke wali murid. Salah satunya wali murid yang bernama Arbai. ”Lebih baik orang tua yang mati dari pada anak-anak, untuk itu kita minta pihak sekolah agar memulangkan anak-anak lebih awal,” ujarnya yang mengaku kwatir dengan ancaman itu. Pun demikian, ia mendengar adanya ancaman itu setelah mendapat informasi dari wali murid lain. ”Walaupun ini sekedar ancaman, tapi perlu ditindak lanjuti,” pintanya.
Ditempat yang sama Kepala Dusun Bhuana Sari, Denpasar, Haji Umar Dani juga sempat turun ke lapangan. Ia juga meminta kasus tersebut segera dituntaskan. ”Saya dilapori kalau ada ancaman bom yang mengatasnamakan Noordin, kebetulan saya lihat sendiri SMS-nya dari kepala sekolah,” katanya. Pun demikian ia meminta polisi untuk mengusutanya. ”Apalagi sampai dua orang yang dikirimi SMS,” jelasnya.
Sementara itu ditempat terpisah Kabid Humas Polda Bali Kombes Gde Sugianyar mengatakan, saat ini kasusnya masih ditangani oleh pihak kepolisian. Nah ditanya soal ancaman pasal yang bakal dijeratkan kepada pelaku teror tersebut. ”Ancamannya sama dengan undang-undang teroris, karena meski tidak ada korban, ancaman ini sangat meresahkan,” jelasnya. Pasal tersebut adalah, pasal 6 UU teroris No 15 tahun 2003 tentang membuat rasa takut dan kecemasan yang sangat mendalam meskipun tidak ada korban. (Muhammad Husen Shandy)




