KoranRakyat.net | Opini
Kemenangan Obama meraih tiket masuk ke Gedung Putih telah mematahkan anggapan bahwa orang kulit berwarna tidak mungkin menduduki kursi presiden AS. Slogan yang kerap diucapkan di masa kampanye kepresidenan seperti “Change” dan “Yes We can” memiliki makna yang sangat dalam melihat pergeseran tradisi kepemimpinan di AS. Sebelumnya stuktur sosial dan politik di AS sangat kental dengan keterwakilan mayoritas “Anglosexon” dan telah berjalan ratusan tahun mengendalikan kepemimpinan di AS. Namun dinamika kepemimpinan juga tidak mengabaikan kelonggaran kepada kelompok minoritas “Ethnis Groups” lainnya ikut di dalam meraih kesempatan itu. Kemajemukan sebagai kekuatan akar bangsa, telah menjadi mosaik. “Unity and Diversity” sebagai falsafah kemudian menjadi perekat kemajemukan dan “Symptom “ pembentukan akar kesederajatan.
Pendahulu Obama seperti “Abraham Lincoln” mengawali jalan keterwakilan “Slave” di dalam organisasi militer di AS. Bahkan presiden Lincoln berhasil mengesahkan amandemen ke XIII di dalam konstitusi AS,yang menyatakan penghapusan perbudakan. Kekuatan kharisma presiden untuk melawan arus kala itu menempatkan dirinya dalam resiko besar, poluler, dan sekaligus mengemas paradigma perubahan. Semboyan penting yang sempat ia utarakan misalmya : “let us have faith that right makes might…. let us to the dare to do our duty as we understand it”. Perjuangan penghapusan perbudakan dan kesederajatan hak setiap warga negara meski dibayar dengan mahal dengan terbunuhnya presiden Lincoln. Spirit tersebut kemudian mengilhami presiden Obama dalam semangat kesederajatan. “Lincolnism” diusung sebagai kekuatan tema kampanye yang sering bergema “Change” dan “Yes we can”. Apakah karena ia (Obama) berkulit campuran (Afroamerica)? Dengan demikian sangat terilhami oleh idealisme presiden Abraham Lincoln? Tentu saja lebih pada semangat karena terbukanya kesempatan.
Derajat popularitas Obama yang terwakili karena tampil berbeda dari tradisi kepresidenan sebelumnya juga menarik untuk disimak. Martin Luther King , Jesse Jackson adalah sosok-sosok pendahulu Obama yang telah merintis jalan menangkap adanya kesempatan. King mati tertembak didalam semangat perjuangan kaum minoritas hitam layaknya Lincoln. Jesse Jackson kalah didalam konvensi pendahuluan partai demokrat oleh Bill Clinton. Jadi jalan panjang mengubah tradisi kepemimpinan di AS dapat dijelaskan dengan dua pendekatan. Pertama , pergeseran opini publik di AS, dimana ada paradigma perubahan bahwa masalah ras kelihatan kurang menjadi proritas utama ,dan Kedua, lebih kepada personifikasi kepeminpinan dan isu/konsep-konsep yang ditawarkan. Ada faktor lain disamping kecerdasan Obama mengemas berbagai isu-isu yaitu wajah buram pemerintahan Bush yang dengan mudah tampil sebagai kelemahan yang mewakili partai republik.
CERMIN KEPEMIMPINAN YANG KUAT
Tidak hanya diwakili Obama ,pemerintahan AS sebelumnya juga punya orang-prang yang pernah singgah di Gedung Putih dengan prestasi yang gemilang. Franklin Deolano Roosevelt misalnya, dengan kharismanya tercatat salah satu presiden yang sangat populer setelah Washington dan Abraham Lincoln. “Great depression” tahun 1930-an telah mengukir prestasinya didalam pemulihan dari keterpurukan ekonomi AS. Upaya rahasia dengan “Manhattan project” membuat pulihnya kepercayaan rakyat Amerika bahwa “bom atom” yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki berhasil dengan kemenangan AS atas Jepang. “Manhattan project” awalnya didesign sebagai proyek militer yang mampu menyelamatkan ekonomi Amerika, meski kemudian terbukti adalah proyek pembuatan bom atom. “Manhattan project” juga embrio dikenalnya proyek nuklir AS paska perang dunia ke -2, dan dari sinilah kekuatan kharisma FDR terukir. Meski rencana digagas oleh Roosevelt, tapi pelaksanaan keputusan penjatuhan bom atom dilakukan melalui pemerintahan Presiden Harry Truman.
Kekuatan kharisma Roosevelt membayangi pemerintahan berikutnya seperti Truman, Eisenhower, Kennedy bahkan Johnson. Ada cerita menarik yang dibawa Eisenhower paska perang dunia ke-2 yaitu terlibatnya AS didalam perang Korea. Eisenhower sangat populer karena pernah menjadi komandan tentara sekutu di Eropa. Jenderal berbintang lima ini secara diam-diam bersaing ketat dengan Jendral Mc Arthur komandan /panglima perang Pacific AS memperebutkan kursi presiden AS, meski akhirnya dimenangkan Eisenhower.
Kekuatan kharisma presiden AS juga melekat pada presiden Kennedy tatkala krisis (“Bay of Pigs”) atau teluk babi di Kuba. Dengan cekatan presiden Kennedy mampu memaksa Uni Soviet membongkar timbunan senjata nuklirnya di Kuba dengan blokade laut. Peristiwa ini dikenal dengan “Quarantin Declare “ dan nyaris menyeret AS-USSR perang nuklir. Johnson sebagai penerus Kennedy masuk perangkap perang Vietnam yang menguras enerji ekonomi AS. Berlarut-larutnya perang Vietnam baru berakhir ketika Nixon menggantikan Johnson sebagai presiden AS. Presiden Nixon satu-satunya presiden AS yang berhasil mencairkan hubungan dipomatik dengan Cina. “The Golden Gate Policy” yang diprakarsai presiden Nixon menjadi tonggak sejarah pulihnya atau mencairnya dua ideologi yang sangat berbeda(komunis-kapiatalis). Era ini berubah mewakili era “Cold War” dan terciptanya “Containment Policy” atau politik pembendungan komunis yang diberlakuan negara-negara barat terhadap negara-negara komunis. Kasus pencairan dua ideologi yang saling berseberangan bukan sekedar cairnya hubungan diplomatic AS-RRC, tapi lebih membuka mata dunia bahwa ketegangan harus berakhir. AS sangat berkepentingan membuka pasar Cina yang besar dan kedepan diharapkan dapat menyerap berbagai produk/komoditas perdagangan. Karena realitasnya komunitas Cina telah berkembang di seantero AS. Pasar AS dimanfatkan sebesar-besarnya oleh masyarakat perantauan Cina, sementara tanpa dipulihkannya hubungan diplomatic AS-Cina maka kerugian banyak ditanggung AS. Langkah ini dijadikan referensi presiden Nixon untuk memudian menyebut “Yellow Diplomacy” atau juga sebutan lain sebagai “The Golden Gate Diplomacy’.
DOKTRIN PRESIDEN
Lain halnya dengan presiden Monroe, ia menempatkan kharisma kepemimpinannya pada “Monroe doctrin” dengan kata-kata “Americas were not open to exploitation from out-side”. Monroe dikenal sangat memproteksi AS dan seluruh Amerika Latin dari campur tangan Eropa. Amerika dibawah presiden Monroe tercatat melahirkan embrio “Expansionism” atau “American Frontiers”. Ketika masih sebagai menteri luar negeri AS dibawah kepemimpinan presiden Jefferson, ia (Monroe) berhasil mengambil alih Louisiana dari Spanyol. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan “Louisiana Purchase” , dan ini awal dari “America Westward“ dengan pergerakan pengusaan ke arah barat (wilayah Mexico ) dll . Era ini kemudian melahirkan ide-ide “Imperialism” Amerika Serikat.
Kekuatan dan simbol-simbol kepemimpinan presiden AS juga terwakili dengan dokrin-doktrin serta tindakan-tindakan politik/ekonomi yang mampu memulihkam kehormatan AS bahkan dunia. Ada ” Monroe doctrin”, kemudian presiden George Washington terkenal dengan kata-katanya : the US will be able to keep disengaged from the labyrinth of European politics and wars… without being engaged in their quarrel… in world dominated by large unfriendly monarchies. Ada “The new deal “ presiden F.D. Roosevelt, ada “Fair Deal” presiden Harry Truman, ada “Reaganomic ” presiden Reagan, ada “Clintonomic “ presiden Clinton, dan tentu saja kata kunci “Change” dan “Yes we can” presiden Barack Obama.
Oleh: Bambang Nuroso (snuroso[at]yahoo.com)
Pengamat plolitk – ekonomi AS dan
Dosen pascasarjana (Kajian Wilayah Ameika) Universitas Indonesia




